Berat Bila Kita Hanya Berpikir, Tapi Lakukanlah

  • Whatsapp

Belum juga hari ini selesai dijalani, tapi pikiran ini sudah terasa berat. Memikirkan apa yang akan dilakukan esok hari. Tidak, saya tak bisa berdiam diri. Menyerah pada keadaan bahwa apa yang harus saya selesaikan terasa berat.

amix stefanny

Tak ada pekerjaan yang mudah. Semua pekerjaan memiliki resikonya sendiri. Mungkin terlalu sering kita melihat orang lain sampai lupa. Bahwa orang lainpun akan melihat kita. Seolah-olah masalah hanya milik kita padahal tiap orang punya masalahnya masing-masing.

Jangan hanya berpikir, lakukan apa yang ada dipikiran. Realiasasikan dengan konsistensi dan penuh kesabaran hingga apa yang dipikirkan menjadi sebuah realita.

Tinggal bagaimana kita menempatkan diri. Apakah melihat sesuatu dengan cara yang pesimistis atau optimistis. Bila kita melihat masalah secara optimisitis, pasti timbul keyakinan segala sesuatunya ada hikmahnya. Berbeda bila kita melihat masalah secara pesimistis, pasti dunia itu terasa gelap. Harapan yang kita damba sudah sirna.

Coba perhatikan, diri kita sendiri atau orang yang ada disekitar kita. Manakala sedang memiliki masalah pasti rambutnya acak-acakan. Tak terasa secara reflek tangan ini mampir ke kepala dan berputar-putar.

Naluri setiap manusia, pikiran yang kacau akan menghasilkan perbuatan yang kacau pula. Bila hal ini terjadi secara terus menerus pasti menjadi sesuatu yang khas, meski banyak pula orang lain yang mengikutinya.

Memang apa yang khas saat ini bukan sesuatu yang unik saja. Ia hanyalah sesuatu yang sering nampak dan menjadi penanda. Agar di ingat orang lain, bila ada hal yang berbuat serupa kita akan bilang, “kamu itu mirip…!”

Kalimat yang cukup populis untuk menggeneralisasi apa yang kita lihat pada orang di sekitar kita. Kebiasaan mengkotak-kotakan sesuatu yang kita lihat pada apa yang telah ditentukan masyarakat.

Masyarakat kita yang lumayan latah menanggapi perkembangan jaman. Kebiasaan yang kelak menjadi kebiasaan, akibat diamini orang-orang yang ada di sekitarnya. Semoga anggapan saya di atas salah.

Yang terjadi saat ini lebih didasari kesadaran akan akibat-akibat bila hal itu di pilih. Bukan satu pandangan sesaat yang bias dan menyilaukan mata.

Membuat penglihatan kita kabur, apa yang kita lihat bukanlah sesuatu yang sebenarnya. Sesuatu yang nisbi dari kejadian yang nisbi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *