Bukan Perjalanan Hidup

Ingin bercerita tentang sesuatu tapi bukan perjalanan hidup. Hanya sebatas pengalaman yang bisa jadi akan merubah sudut pandang. Dimana dulu yang miskin empati kini bisa berubah peka terhadap lingkungan sekitar.

bukan perjalanan hidup
pixabay.com/stocksnap

Satu pengalaman yang terjadi belasan tahun silam. Disaat saya ingin lebih mengenal dunia seutuhnya.

Iya, melihat mereka para peserta yang sedang mengikuti pendidikan dan latihan (diklat) pecinta alam. Membuat saya teringat kalau dulu saya pernah seperti mereka.

Melihat mereka yang menahan rasa lelah, rasa lapar dan bisa jadi rasa sakit. Tak jarang ada satu diantara peserta kemudian kehilangan kesadaran.

Ada juga seorang kawan yang mengatakan memasuki hari ketiga sampai hari kesepuluh peserta pelatihan tak ubahnya anak autis. Seseorang yang mengalami gangguan dalam berinteraksi dan berkomunikasi.

Layaknya anak yang mengalami gangguan atau kesulitan dalam bersosialisasi dengan yang lain. Seolah memasuki dunia yang berbeda, semua terlihat menyeramkan dan menyedihkan.

Hidup seperti dalam cengkraman tatanan yang serba sulit dan tak pasti, tak tahu kapan kita bisa istirahat, makan, minum atau menikmati hidup. Semua dalam bayang-bayang gelap, kita harus waspada bila ingin selamat.

Perlakuan yang tidak menyenangkan, itu yang pertama harus diterima dan dirasakan seluruh peserta pelatihan. Bahwa dunia tak seindah apa yang dipikirkan.

Baca juga: Berkaca, Maka Kita Tahu Siapa Diri Kita

Jungkir Balik Dunia

Perbedaan mendasar belajar di bangku sekolah dengan kehidupan sesungguhnya. Saat dikelas maka kita belar dulu kemudian ujian. Sebaliknya dalam kehidupan maka kita akan mengalami ujian dulu baru belajar.

Perlu banyak persiapan bila ingin hidup nyaman dan tentram. Harus ada ketrampilan dan keahlian yang harus dimiliki untuk tetap bertahan hidup.

Begitulah perjalanan hidup, kadang ada suka dan duka. bukankah pelangi itu tercipta seusai hujan dan tanpa hujan pelangi tak akan ada. Sama halnya dalam hidup, tanpa tantangan seseorang tidak akan naik dalam satu tingkat yang lebih tinggi.

Waktu berjalan seolah tak ada akhir kecuali keyakinan bahwa semua akan indah pada waktunya. Tak bisa menentukan saat ini hari apa atau jam berapa.

Semua nampak sama saja tak ada tanda-tanda yang bisa menyelamatkan diri kita kecuali daya tahan kita. Tak perlu kekuatan besar yang penting bisa menjaga bahwa kita dalam keadaan sadar sepenuhnya.

Baca juga: Psikologi untuk Anda

Penyesalan itu Ada di Belakang

Selama menjalani pelatihan yang ada hanya penyesalan kenapa dulu secara sadar memasukan diri pada ruang dan tempat yang tidak diharapkan. Sama seperti itu mungkin dalam hidup, kita mungkin pernah menyesal kenapa harus berada dan menjalani satu masa yang tidak menyenangkan.

Tapi semua itu akan terbantahkan bila telah berakhir. Selesai diklat kita akan orgasme, bahwa kita telah melalui satu tahapan yang sangat sulit dalam hidup. Tidak semua orang mampu melaluinya tapi kita memilih untuk melaluinya secara sengaja dan sadar.

Sama seperti itu, kelak bila kita tua pasti akan tersenyum bangga dan bahagia bahwa kita telah pernah hidup dan memilih jalan yang sangat menantang. Berbuat banyak hal, memberi manfaat dan mendapat kenangan yang tak pantas dilupakan.

Saat ini mungkin kita belum menyadari semua itu karena saat ini masih berproses. Tunggu saatnya bila proses telah selesai dan memanen atas jerih payah yang telah dilalui.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *