Di Balik Kesuksesannya, Ada Cerita Pilu dari Didi Kempot yang Terlalu Sulit untuk Rekaman

  • Whatsapp

Perjuangan hidup Didi Prasetyo alias Didi Kempot dalam merintis karir bermusik selalu menarik untuk dibahas. Kini tak ada orang yang tak mengenal pria asal Solo ini.

didi kempot
mojok.co

Puluhan bahkan ratusan lagunya sudah menggema di seluruh tanah air dan bahkan hingga Eropa. Didi Kempot memperjuangkan hidupnya dalam lagu-lagu campursari yang selama ini kerap dipandang sebelah mata.

Sekitar 30 tahun lalu Didi Kempot memulai langkahnya. Berangkat dari keluarga sederhana, dia belajar gitar otodidak dengan cara menjual sepeda pemberian ayahnya. Dia mengamen selama beberapa tahun di jalanan di kota asalnya. Dengan membawa gitar dia berusaha bertahan mencari uang seadanya.

Didi Kempot muda pun nekat merantau ke Jakarta sebagai pengamen. Tak banyak yang bisa dia bawa, hanya beberapa potong baju yang bisa dia pakai selama berhari-hari di jalanan.

Bersama rekan-rekannya dia tidur di indekos murah dan sempit, tidur bergelimpangan jadi satu dalam ruangan sekecil itu. Dari Jakarta itulah nama “Kempot” lahir yang merupakan kepanjangan dari Kelompok Penyanyi Trotoar.

Pada periode waktu yang sulit itu beberapa lagu dia ciptakan dan dia nyanyikan saat mengamen. Lagu-lagu awalnya seperti “Cidro,” “Podo Pintere,” “Moblong-Moblong,” “We Cen Yu,” dan lain-lain perlahan mulai familiar di telinga masyarakat. Orang mulai bertanya-tanya, lagu siapa ini?

Namun sayangnya karena terlalu miskin, Didi Kempot tak pernah bisa merekam lagunya di studio, dia hanya bisa menyanyikannya saat mengamen. Akhirnya agar lagu itu tak hilang dia merekamnya di kaset kosong dan tape recorder sesuai mengamen. Tentu saja, kualitas rekaman yang apa adanya.

Dengan modal keyakinan bahwa musik adalah jalan hidupnya, Didi Kempot mengantarkan rekamannya ke studio-studio musik kenamaan kala itu, salah satunya Musica Studios. Bak gayung bersambut, Musica tertarik dengan demo musik yang diberikan Didi dan mereka menawarkan aransemen musik yang lebih serius dibantu personel Koes Plus, Pompi Suradimansyah.

Lagu jenaka “We Cen Yu” menjadi lagu pertama Didi Kempot yang populer di masyarakat, khususnya warga Jakarta sekitarnya. Bahkan TVRI kemudian menawarkan membuat video klip yang otomatis membuat karir Didi seketika melejit.

Waktu demi waktu, lagu-lagu Didi Kempot terus lahir, menyentuh berbagai tema dan digarap dengan berbagai musik. Basis fansnya semakin tumbuh, job-job terus berdatangan dan nama Didi pun kian menggaung.

Kesuksesan Didi ini membawa berkah bagi semua orang di sekelilingnya. Sang ibu sangat bangga, apalagi ketika tahu putranya bisa masuk TV, sesuatu yang sangat membanggakan di zaman itu.

Kini di usia 53 tahun, Didi Kempot bukannya meredup, malah semakin kondang. Gelombang baru fansnya kembali mempopulerkan lagu-lagu lamanya yang dulu pernah berjaya. Mereka menjuluki dirinya sebagai Sobat Ambyar. Didi masuk dalam pusaran dunia anak muda milenial dan dia menjadi sangat populer dalam kultur internet.

Semua ini tentunya dia syukuri. Didi Kempot mungkin tak menyangka anak muda zaman sekarang mulai tertarik lagi dengan musik-musik tradisional dan campursari. Dia berharap mereka yang menyukai musik-musiknya kelak juga berkontribusi dalam melestarikan musik daerah ini.

Didi Kempot juga semakin banjir job di luar manggung. Terhitung sejak Desember 2019, e-commerce raksasa Shopee Indonesia menggandeng menjadi brand ambassador untuk salah satu kampanye. Konsistensi Didi Kempot dalam menjaga nilai-nilai kebudayaan inilah yang membuat Shopee tertarik untuk menggaetnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *