Gunung Gentong Magnet Baru Gunungkidul

  • Whatsapp

Berkunjung ke Jogja dan menyasar Gunungkidul, jangan lupa coba destinasi baru yang dikenal dengan Puncak 4G atau Gunung Gentong Gedangsari Gunungkidul.

gunung gentong, puncak 4g
instagram.com/norel08

Sesuai namanya Gunung Gentong ini berada di kawasan Gedangsari Gunungkidul. Dari kota Jogja bisa ditempuh sekitar 1 jam perjalanan.

Rute paling mudah di ambil melalui Jalan Wonosari, Bukit Bintang, GCD, pertigaan Sambipitu ambil kiri menuju Nglipar. Sebelum SDN Klebu ambil kiri dan ke desa Ngalang,Dusun Manggung. Dari sini perjalanan ambil sisi kiri menuju Gunung Gentong.

Puncak 4G ini sejatinya bukan objek wisata baru. Hanya saja hingga saat ini belum sepopuler sisi selatan yang identik dengan gugusan pantai.

Saat paling tepat menikmati keindahan alam Puncak 4G tentu saja pada pagi hari saat matahari terbit. Bila ingin merasakan keindahan tertinggi disarankan untuk camping.

Lokasi yang telah tertata apik memberi garansi bahwa kawasan puncak 4G sangat aman untuk siapapun. Bahkan bagi mereka yang sekalipun tidak pernah melakukan kegaiatan outdoor.

gunung gentong gunungkidul
instagram.com/fajrifth

Datanglah pada sore hari dan mendirikan tenda. Rasakan sensasi kala malam negeri diatas awan. Jangan lupa ajak orang terkasih atau sahabat untuk membunuh waktu.

Saat mentari terbit maka kita akan dibangunkan oleh hangatnya sang surya. Jangan teruskan untuk tidur tapi cobalah berburu foto di beberapa spot yang ada.

Untuk lebih memudahkan titik mana yang akan memberi hasil maksimal kamu bisa pilih beberapa spot foto dengan berbagai seting yang menarik.

Dibalik keindahan Gunung Gentong ternyata menyimpan sejumlah misteri menarik. Salah satu yang cukup populer dan dikenal masyarakat sekitar berkaitan dengan Prabu Brawijaya V.

Konon pada jaman dulu Prabu Brawijaya V melakukan semedi di Gunung Gentong. Raja terakhir Majapahit ini kala itu melakukan tapa dan di lempar gentong oleh Radan Patah yang tak lain adalah putranya sendiri.

Masih menurut cerita yang berkembang Raden Patah ini melempar gentong yang dikenal sebagai tempat air wudlu untuk membujuk sang ayah agar mememluk Islam.

Hingga saat ini kearifan lokal masyarakat setempat masih terjaga dengan baik. Hal ini setidaknya dengan budaya nyadran yang hingga kini masih diadakan sebagai bentuk rasa syukur.

Kamu bila beruntung datang pada bulan-bulan tertentu maka tidak saja akan mendapat keindahan alam yang begitu memukau. Lebih dari bisa ikut pesta budaya masyarakat setempat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *