Hanacaraka Kisah Dua Pengawal Setia Yang Tewas Dalam Menjalankan Amanah

Ha Na Ca Ra Ka = ada caraka (utusan)
Da Ta Sa Wa La = mereka bertengkar
Pa Dha Ja Ya Nya = sama-sama kuat
Ma Ga Ba Tha Nga = sama-sama tewas

hanacaraka
indodata2009.wordpress.com

Aksara Hanacaraka dalam beberapa waktu terakhir ini cukup populer. Selain karena banyak pelaku seni kreatif di Jogja yang menggunakannya ternyata logo, “jogja istimewa” juga menggunkan aksara Jawa itu.

Mungkin tak banyak yang tahu sejarah atau asal usul aksara ini ada. Ternyata aksara yang banyak berkembang di Nusantara, khususnya di tanah Jawa dan Bali ini berasal dari aksara Brahmi di India.

Namun secara spesifik berdasar beberapa sumber yang ada ternyata di ciptakan Ajisaka yang tak lain adalah raja dari Kerajaan Medangkamulan. Kisah ini bermula dari perjalanan Ajisaka yang meninggalkan Pulau Majethi dan senjata andalannya kepada Sembada.

Sedang ia sendiri melakukan pengembaraan bersama dengan salah satu pengawal yang bernama Dora. Sembada dan Dora ini adalah pengawal yang sama-sama setia dan memiliki kesaktian tingkat tinggi.

Sebeluem pergi Ajisaka berpesan agar jangan memberikan sejata itu kepada siapapun. Senjata itu hanya boleh diberikan Sembada kepadanya.

Dalam pengembaraannya, Ajisaka sampai di Pulau Jawa dan masuk wilayah Kerajaan Medangkamulan. Pada awalnya kerajaan ini sangat makmur dan sejahtera dimana rakyat hidup senang dan berkecukupan.

Kerajaan ini dipimpin Prabu Dewatacengkar yang dikenal sangat cinta dan mengasihi seluruh rakyatnya. Namun Raja ini memiliki hobi makan yang tak terbendung.

Ia suka makan berbagai menu yang berbeda setiap harinya. Hingga pada suatu hari si juru masak kehabisan ide untuk masak apalagi. Dalam eksperimennya ia mencoba menambahkan daging manusia.

Anehnya raja ini sangat gemar dan ingin dimasakan terus menerus dengan bahan yang sama. Akibatnya, sifat raja berubah 180 derajat, dari semula yang cinta kepada rakyat menjadi bengis.

Apapun yang terjadi juru masak harus menghidangkan menu dari daging manusia. Lambat laun rakyat semakin habis dan hidup dalam ketakutan.

Kabar ini sampai dibenak Ajisaka dan ia berencana mengorbankan dirinya sebagai menu Prabu Dewatacengkar. Namun demikan ada satu syarat yang diajukan dan harus dipenuhi oleh baginda raja.

Ajisaka minta sebidang tanah seluas ikat kepala dan Prabu Dewatacengkar sendiri yang harus mengukurnnya. Anehnya ketika ikat kepala itu dibentangkan tidak ada habisnya hingga ia masuk ke dalam laut selatan dan berubah menjadi buaya putih.

Setelah itu Ajisaka dinobatkan sebagai raja di Kerajaan Medangkamulan dan ia ingat akan senjata yang ditinggal dan meminta Dora untuk mengambilnya. Tak perlu waktu lama maka pengawal setia ini pun kembali ke Majethi.

Sembada sebagai abdi dalem yang setia ingat betul akan pesan Ajisaka yang mana ia tak akan menyerahkan senjata itu kepada siapa saja. Senjata itu hanya akan diserahkan kepada pemiliknya secara langsung.

Disisi lain Dora tak mau mengecewakan tuannya. Ia harus kembali beserta dengan senjata yang dimaksud. Karena keduanya bersikeras sebagai pihak yang benar maka pertarungan sengit tak terhindarkan.

Dari pertempuran ini tak ada satupun yang menang. Keduanya bersimbah darah dan tewas dalam pertempuran menjalankan misi.

Tewasnya Dora dan Sembada terdengar ditelinga Ajisaka dan ia sangat menyesal atas apa yang terjadi. Untuk mengenang dua orang punggawa terbaiknya maka ia menciptakan deret aksara Hanacaraka.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.