Jogjaku yang Dulu Bukanlah yang Sekarang

  • Whatsapp

Memang, Jogjaku yang dulu bukanlah yang sekarang. Dulu, awal abad ke-19 Kota Jogja sudah membuat banyak orang terpesona, apalagi orang Eropa. Bahkan, seorang residen Belanda di Jogja mengatakan bahwa Yogya itu makmur, kaya dan indah, negeri subur dan mujur, taman tertata rapi, dan masih banyak lagi yang dia katakan tentang keindahan ini kota ini.

jogjaku yang dulu
pamungkas.net

Memang, sebelum meletusya Perang Diponegoro Kota Jogja benar-benar bersih dan tertata rapi. Rumah penduduk dihiasi pekarangan asri yang ditumbuhi pohon buah dan perdu. Warung-warung dan pasar-pasar tertata rapi dan juga bersih.

Bacaan Lainnya

Namun sekarang? Sangat berbanding terbalik dengan yang dulu. Jalanan yang lengang kini tinggal kenangan. Dulu, jumlah kendaraan bermotor masih sedikit. Namun semakin kesini, jumlah kendaraan bermotor semakin bertambah dan meningkat. Dulu, hanya membutuhkan waktu sekitar 5 menit untuk pergi ke suatu tempat di dalam kota. Sekarang karena macet, bisa lebih dari satu jam.

Dulu, indahnya Merapi masih terlihat jelas. Sekarang, malah baliho dan gedung-gedung bertingkat yang nampak. Baliho dan gedung-gedung bertingkat telah menutupi birunya langit dan indahnya Merapi di sebelah Utara Jogja.

Sopan santun lalu lintas yang terjaga, kini berkurang. Dulu, kalau mau nyalip motor atau mobil, pasti klakson dulu sebagai bentuk kesopanan. Sekarang, malah pada srobot-srobotan penuh emosi agar menjadi yang di depan.

Di Kota Pelajar, malah mall-mall yang semakin merajalela. Dulu, perpustakaan atau toko-toko buku menjadi salah satu tempat pilihan mahasiswa. Sekarang akibat modernisasi dan kecanggihan teknologi, malah mall-mall yang ramai dengan mahasiswa. Perpustakaan hanya ramai dengan mahasiswa yang sedang menghadapi skripsinya.

Kehangatan warga Jogja yang sedang tawar-menawar di pasar, hanya tinggal cerita. Dulu, pasar tradisional sangat ramai dengan para warga yang ingin membeli kebutuhannya. Sekarang, pasar tradisional sepi dan tergantikan oleh kemudahan dan kelengkapan minimarket dan supermarket. Jogja yang sekarang memang berbeda.

Pemandangan orang yang sedang asik bercerita, sudah jarang ditemukan. Dulu, orang-orang asik mengobrol dan bercerita ini itu untuk hanya sekedar basa-basi atau untuk menumpahkan segala rasa resah gelisahnya. Sekarang, orang-orang yang sibuk menunduk melihat smartphone nya yang banyak. Memang Jogja yang dulu bukanlah yang sekarang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar