Kadang Secara Tak Sadar Kita Menjadi Orang Lain

  • Whatsapp

Internalisasi, satu kata yang begitu sering saya dengar sewaktu duduk di bangku kuliah. Kata yang sangat lekat dengan “menjadi satu dan masuk.” Kata itu tetap familier hingga sekarang dan kadang saya terpaksa atau lebih tepatnya saya terpaksa menggunakannya untuk istilah sehari-hari ketika tanpa sadar kita menjadi orang lain.

ilustrasi menjadi orang lain
scotware.net

Teringat cerita salah seorang kawan waktu masih belajar di organisasi teater kampus. Dia anak orang kaya atau setidaknya hidup dari keluarga berkecukupan.

Tak pernah merasa kekurangan barang sedikitpun. Kalau tak ada uang tinggal pinjam dan dipastikan bila saatnya tiba maka kiriman uang pun datang.

Salah satu agenda untuk calon anggota baru adalah sosialisasi peran atau lebih tepatnya seseorang harus memerankan suatu karakter hingga selesai. Sukses atau tidaknya peran ini tergantung dari totalitas para pelakunya.

Baca juga: Teater Senthir Universitas Mercu Buana Yogyakarta

Tanpa Sadar Kita Menjadi Orang Lain

Dan dalam praktiknya ada salah seorang kawan yang dijadikan gembel dan dia diarahkan untuk mencari puntung rokok serta mencari makanan sisa di tong sampah. Untuk makanan jelas dia sama sekali enggan menyentuhnya tapi untuk gembel kelas pemula yang kecanduan rokok dia cukup berhasil.

Sepanjang jalan di kawasan Nol Kilometer disusuri, badan selalu menunduk, memperhatikan dengan seksama kalau-kalau ada puntung rokok di jalan. Tanpa malu ia pungut kalau ada langsung dinyalakan. Kalau ada lebih ia kantongin, begitu habis bagaikan kereta harus nyambung lagi.

Pengalaman satu hari penuh totalitas, meninggalkan jati diri yang sebenarnya. Tak ada lagi sosoknya yang selalu tampil klimis dan wangi. Bersih dan tertata hingga siapa saja yang didekatnya betah dengan semerbak tubuhnya.

Hal tersebut sangat kontras. Kini badannya dibuat sebau sampah, badannya dekil, rambutnya awut-awutan hingga ia sendiri takut menatap kaca. Pakaian yang dikenakan juga compang-camping sekadar menutup badan.

Setelah waktu berjalan lebih dari dua tahun sejak peritiwa itu ada. Terlihat sesekali ia akan menunduk siapa tahu ada puntung rokok.

Bukan tidak ada uang tapi pengalaman menjadi orang lain saat belajar teater itu kadang masih melekat. Secara tidak sadar ia kembali pada sebuah romantisme dimana ada kebebasan berekspresi saat tanpa sadar menjadi orang lain.

Kondisi ini bukan hanya dalam ruang bernama teater. Tanpa sadar pun bisa jadi kita akan melakukannya. Mengambil peran menjadi orang lain yang sejatinya itu bukan saya dan dilakoni dengan apik.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *