Ada Lemper Raksasa Pada Rabu Pungkasan di Desa Wonokromo, Pleret, Bantul

  • Whatsapp

Ribuan warga Pleret dan sekitarnya menyemut di Balai Desa Wonokromo, Pleret, Bantul, Selasa (16/12/2014) malam. Mereka hendak menyaksikan tradisi tahunan Rabu Pungkasan. Upacara adat ini digelar setiap malam Rabu pada akhir bulan Sapar.

lemper rabu pungkasan
antarafoto.com

Kegiatan ini telah berjalan ratusan tahun, berdasar penuturan para warga diketahui bahwa kegiatani ini telah ada sejak tahun 1600-an. Meski telah berjalan ratusan tahun tapi antusiasme warga tak pernah surut. Buktinya pada malam tadi terlihat lautan manusia berkumpul menjadi satu.

Selain itu pada malam tadi ada sesuatu yang luar biasa manakala ada sebuah lemper berukuran raksasa. Lemper tersebut memiliki panjang 250 centimeter dengan diameter 96 centimeter.

Sama seperti kegiatan lain di bulan Sapar yang ada di wilayah Jogja dan sekitarnya. Kegiatan ini juga tak lepas dari syiar agama. Yang mana para tokoh agama Islam pada jaman dulu mengumpulkan masyarakat  dengan kegiatan seni budaya.

Acara Rabu Pungkasan dimulai dengan kirab lemper raksasa yang mengambil start di halaman Masjid Al Huda Dusun Karanganom menuju Balai Desa Wonokromo Pleret Bantul. Benda besar dan panjang tersebut ditandu oleh para bregada berseragam serba merah yang berasal dari pemuda setempat.

Baca juga: Uniknya Satu Porsi Sate Klatak Pak Pong Wonokromo

Selain lemper masih ada kirab budaya yang terdiri dari ratusan Srikandi yang berdandan cantik dan ada 10 andong yang mask dalam karnaval.

Tak lupa di serambi masjid dilakukan doa bersama atas nikmat Tuhan. Doa dipanjatkan sebagai ungkapan rasa syukur untuk limpahan rizki dan diharapkan akan terus ada.

Untuk warga yang enggan terlalu lama bisa menyaksikan pertunjukan Sholawat Rodat yang dikumandangkan di Pendapa Balai Desa Wonokromo. Dari dulu hingga sekarang pihak panitia masih mempertahankan kekentalan syiar agama Islam maka wajar saja bila semua itu sarat ajaran Islam.

Rabu Pungkasan Ada Sejak Zaman Kerajaan Mataram Islam

Berdasar penuturan warga sekitar yang tahu sejarah Rabu Pungkasan diketahui bahwa tradisi ini telah ada sejak zaman Kerajaan Mataram Islam di Kerto Pleret Bantul. Saat itu ada musibah besar yang menimpa warga Wonokromo.

Agar mara bahaya segera berakhir maka Sultan Agung meminta Kyai Welit agar menghalau bahaya tersebut. Tak lama kemudian Kyai Welit ini memasang rajah di Desa Wonokromo.

Dan puncaknya musibah itu hilang pada hari Rabu diakhir bulan Sapar. Oleh karena itu warga mengenangnya dengan nama Rabu Pungkasan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *