Input your search keywords and press Enter.

Mbah Jumiyo, Diusia Senja Masih Hadirkan Keceriaan dengan Es Jadul-nya

mbah jumiyo

Buat kamu yang sering nongkrong di Alun-Alun Kidul Jogja pasti tak asing dengan sosok yang satu ini. Mbah Jumiyo demikian banyak orang memanggilnya, diusianya yang telah senja ia masih semangat mengais receh dengan berjualan es jadul.

mbah jumiyo

jogja.tribunnews.com


Dari penuturannya kepada Tribun Jogja, Mbah Jumiyo berjualan sejak tahun 70an. Artinya kini setidaknya ia telah berjualan lebih kurang 47 tahun atau hampir setengah abad. Selama itu pula ia terus menggenjek sepedanya untuk menemukan pembeli.

Berdasar pantauan Kanal Jogja di media on line benar adanya bahwa Mbah Jumiyo adalah sosok inspiratif. Cukup banyak mereka yang bertemu dengan simbah yang senantiasa menggunakan penutup kepala ini memberikan apresiasi. Usia boleh tak muda lagi tapi semangat pantang menyerah harus ditunjukkan.

Bagi yang belum paham es jadul mungkin dapat mengimajinasikan dengan es lilin. Hanya saja es ini disajikan dengan tusuk. Layaknya es kekinian yang diproduksi pabrik, mbah Jumiyo mampu bertahan dengan es jadul.

Dan benar saja, kotak warna biru yang nemplok di sepeda panjalnya tertulis ‘es jadul’. Meski bertahan dengan ala kadarnya ia berani tempil beda. Selain dengan sepeda, box warna biru pun ia kasih alamat tempat tinggal.

Hal ini tentu saja memudahkan bagai siapa saja yang ingin memesan dan bernostalgia. Maklum saja es ini pernah populer di era 90an dimana anak-anak kalau itu menggemari es dengan berbagai varian rasa tersebut.

Untuk dapat menemukan warga Tegal Urung, RT 2, Gilangharjo, Pandak, Bantul ini cukup mudah. Ia datang ke Alun-Alun Kidul usai shalat ashar dan biasanya dagangan habis pada malam hari.

Harga perpotong untuk es yang dijual juga sangat murah. Cukup merogoh kocek Rp 5 ribuan maka sudah bisa dinikmati bersama pasangan.

Es yang dibuat secara mandiri tersebut berasal dari gula pasir, pati kanji dan kelapa beserta perasa makanan. Es yang diproduksi pagi hari biasanya akan ludes pada malam harinya.

Bagi penjual es tentu cuaca menjadi kendala utama. Saat musim hujan bisa jadi dagangan tidak akan selaris pada saat terik matahari.

Nah bagi kamu yang kebetulan bertemu mungkin bisa membantu meringankan beban beliau dengan membeli sepotong atau 2 potong agar dagangan segera habis dan pulang. Sehat nggih mbah..

Memulai menulis sejak 2004 dengan bergabung pada pers kampus Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Setelah lulus melanjutkan pengalaman menulis di Tribun Lampung Kompas Gramedia. Saat ini kegiatan sehari-hari selain menulis untuk kanaljogja.com juga masih menulis untuk beberapa media online lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *