Penting dan Urgensinya Budaya Sensor Mandiri

  • Whatsapp

Kampanye budaya sensor mandiri atas berbagai tayangan di media televisi telah digencarkan Lembaga Sensor Film (LSF) sejak beberapa tahun yang lalu. Namun sayangnya kampanye tersebut masih belum berjalan optimal.

kaskus.co.id
kaskus.co.id

Hal ini terlihat dari banyaknya berbagai tayangan yang begitu mudah diakses oleh mereka yang sebenarnya belum pantas atau layak untuk melihat acara tersebut. Sebagai contoh banyaknya tayangan dewasa atau yang mengarah pada kekerasan muncul di waktu sore. atau siang hari.

Waktu dimana anak-anak dan remaja paling sering menggunakan saat tersebut untuk mencari hiburan. Televisi menjadi sarana hiburan yang paling murah dan mudah dijangkau.

Tak heran bila jumlah pengguna media ini sangat banyak. Tak mengenal usia atau pun golongan, yang ada mereka akan terhibur bila menonton televisi.

Kita sebagai masyarakat juga tidak bisa serta merta menyalakan media (televisi). Pasalnya mereka juga ada kepentingan yang mendasari adanya tanyangan yang harusnya untuk dewasa muncul dijam dimana ada anak-anak dan remaja masih menjadi pecinta televisi.

Budaya sensor mandiri harus menjadi habit atau kebiasan setiap orang tua. Dengan demikan mereka akan lebih bijak memberikan hiburan yang pas dan sesuai dengan usia tumbuh kembang anak.

Kemajuan teknologi bila tidak dibarengi dengan kesadaran budaya sensor mandiri akan menjadi blunder. Berdasar beberapa studi yang dilaksanakan LSF ditemukan bahwa kemajuan teknologi memberi celah untuk film lolos sensor.

Hal ini karena teknologi memberi ruang gerak berbagai film atau tanyangan yang ada dimana mereka lolos tanpa proses sensor. Dan lagi-lagi yang akan menjadi korban adalah anak-anak.

Mereka yang seharunya hanya mendapat tayangan yang sehat dan layak anak mendapat sesuatu yang lebih. Seolah “dewasa atau puber dipercepat” dan kini begitu mudah ditemukan anak-anak SD yang telah paham betul akan apa itu pacaran.

Dan parahnya lagi kadang mereka menirukan apa yang mereka lihat dimedia televisi. Sesuatu yang dulu sama sekali tidak pantas dan tidak ada kini menjadi sesuatu yang lumrah dan biasa.

Tak jarang ditemukan pemberitaan ada anak SD atau dibawah umur melakukan tindakan asusila. Dan lagi-lagi setelah ditelusuri semua biang keladinya adalah televisi.

Budaya sensor mandiri ini bisa diberlakukan untuk anak-anak sejak mereka balita. Dengan demikian apa yang mereka lihat ditelevisi tetap terkontrol.

Pihak Lembaga Sensor Film telah membantu dengan membuat kode yang bisa muncul dilayar kaca. Tujuannya tentu saja untuk mengingatkan tayangan yang sedang berlangsung boleh dikonsumsi semua pihak atau tertentu saja.

Selain itu Lembaga Sensor Film (LSF) mulai membuka diri dan berinteraksi dengan beberapa pihak terkait salah satunya adalah komunitas blogger. Beberapa waktu yang lalu telah digelar #Roadblog10cities.

Dari 10 kota yang di tuju salah satunya adalah Jogja. Dikota pelajar ini tak kurang dari 100 blogger turut serta dalam ajang bergengsi tersebut. Kedepan diharapkan kegiatan serupa digelar lebih banyak lagi guna memberikan edukasi akan pentingnya budaya sensor mandiri.

Jangan terjadi kelalaian dan kemudian yang ada hanya penyesalan. Menjadi PR bagi semua pihak agar budaya sensor mandiri menjadi gaya hidup bagi setiap orang tua.

Untuk kedua orang tua bisa saling mengingatkan dan mengontrol kapan buah hati bisa ada di depan layar kaca. Tidak ada lagi ungkapan bahwa itu adalah tugas A atau B melainkan ini semua adalah tugas semua pihak yang dianggap telah dewasa.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *