Perahu Kertas, Cinta Itu Bisa Memilih, Dipilih atau Ditumbuhkan

Mungkin terlambat bagi saya untuk mengatakan, baru tahun ini melihat film Perahu Kertas karya Dewi Lestari. Sungguh film yang sangat apik dan mendalam hingga sulit diprediksi jalan ceritanya.

film-perahu-kertas
citraindonesia.com

Meski demikan selalu saja menimbulkan tanya gerangan apa yang akan terjadi kemudian. Seperti di awal seolah Kugy akan jadian dengan Remi dan Keenan dengan Lode. Namun ternyata tidak, Dee seolah tahu betul kalau jodoh pasti kembali dan mempertemukan Kugy dan Keenan di akhir cerita.

Membawa emosi para penonton, apakah cinta itu harus memilih, dipilih atau ditumbuhkan. Dari ketiganya tidak ada yang salah atau yang benar. Pada sebagian orang mungkin cinta itu harus memilih.

Namun demikan ada juga cinta itu yang dipilih dan sebagian kecil cinta ditumbuhkan. Teka teki cinta yang tak akan terjawab akal sehat tapi itu benar adanya.

Sebuah misteri yang akan terjawab dikemudian hari saat ending telah muncul. Dan kisah itu berakhir bahagia, tanpa ada yang terluka karena cinta itu pada dasarnya harus ada keiklasan, bukan karena keterpaksaan atau tendensi ke depan menjadi seperti apa.

Siapa saja yang menyaksikan film ini tentu boleh menebak ending yang bakal terjadi. Kalau toh tidak sesuai harapan wajar saja karena tiap orang memiliki cerita cinta berbeda.

Dee seolah tahu betul cara memaksa penonton untuk mengikuti alur cerita hingga akhir. Dan kisah klasiknya, cinta sejati akan bertemu kembali.

Seolah telah terjadi aturan baku si pemeran utama pria akan bersama pemeran utama wanita. Memberi kesan plong kalau Kugy dan Keenan harus bersama.

Menjadi referensi bagi siapa saja yang belum sempat melihatnya. Ternyata karya anak bangsa ada yang berkualitas dan sarat makna. Bukan hanya sebuah film kalau tidak mau dibilang karya yang cenderung hanya mengeksploitasi kecantikan seperti film yang banyak bermunculan dengan tema hantu.

Akan menjadi lebih baik bila menyempatkan untuk membaca novel aslinya dan melihat bagian mana saja yang dipoles atau dihaluskan. Dan pada akhir catatan semua dikembalikan kepada masing-masing individu. Sejatinya pesan apa yang hendak disampaikan karena tiap orang pasti akan mengapresiasi dengan cara berbeda.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *