Resign Aja Yuk, Ngapain Juga Kerja Untuk Orang Lain

Mungkin terdengar aneh, disaat diluar sana manakala ada bursa kerja selalu dijejali belasan atau mungkin puluhan ribu pencari kerja tapi ada yang memilih resign aja. Bukan tanpa alasan, orang-orang yang memutuskan resign tentu telah memiliki perhitungan matang kelak akan menjadi apa atau lebih tepatnya membangun usaha apa.

Memiliki usaha sendiri, mungkin itu jawabannya dan terdengar “wah” disaat bisa kerja dengan gaji UMR saja bisa bersyukur. Tapi jangan salah, mereka yang memutuskan berani untuk resign justru adalah mereka yang telah mapan dalam artian memiliki jabatan yang bukan ecek-ecek lagi.

lina muryani
kanaljogja.id

Mereka pasti telah melakukan kalkulasi. Bila terus menjadi karyawan maka mungkin saja jabatan tertinggi yang akan dipegang hanyalah senior manager atau kepala divisi, bukan direktur atau CEO yang memiliki kendali penuh atas perusahaan.

Lain halnya bila memutuskan untuk resign dan membangun usaha. Meski kecil sudah pasti jabatan, direktur, CEO atau owner sudah dalam genggaman. Yang lebih membanggakan adalah kendali atas jalannya usaha ada di tangan.

Tidak ada lagi yang memerintah, leluasa dalam jam kerja, kebebasan berekspresi menjadi alasan utama para pegawai memutuskan untuk resign. Yang lebih menarik adalah seberapa besar keuntungan didapat bisa disetting sejak awal.

Adanya pengetahuan yang didapat baik itu di bangku sekolah atau selama bekerja membuat konsep budgeting lebih terukur dan terarah. Tidak ada lagi energi atau sumber daya yang akan terbuang. Efisiensi dan efektifitas menjadi kunci utama suksesnya sebuah usaha.

Namun pertanyaanya berapa banyak pegawai yang berani memutuskan untuk resign aja dan membangun usaha. Tak lebih dari 5% tentunya dan hal ini menjadi peluang bagi siapa saja untuk memulai “kerajaan bisnis” pribadi.

Adanya teknologi informasi membuat segalanya jadi mudah. Bisnis atau usaha yang pada awalnya butuh modal besar kini bisa dimampatkan. Koordinasi dan birokrasi dengan mitra yang dulunya butuh waktu lama kini bisa sangat cepat dalam hitungan menit atau detik.

Jiwa wirausaha memang tidak ada pada setiap manusia. Hanya mereka yang berani mengambil resiko yang dapat bertahan. Bagaikan hukum relatifitas, semakin besar resiko yang ada maka semakin besar pula tingkat kerugian atau keuntungan didapat. Jarak keduanya sangat tipis sekali.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *