Situs Gilang Lipuro, Sejarah yang Terlupakan

  • Whatsapp

Berbicara tentang Kerajaan Mataram Islam mungkin akan menggiring ingatan ke Kraton Ngayogyokarto, Kotagede, Ambarketawang atau mungkin Puncak Suroloyo. Sangat jarang diantara kita ternyata masih ada beberapa situs atau fakta sejarah yang harus diketahui. Salah satunya tentu saja situs Gilang Lipuro yang berada di Dusun Kauman, Desa Gilangharjo, Kecamatan Pandak, Bantul, Jogjakarta.

situs gilang lipuro
gilangharjo.bantulkab.go.id

Berdasar catatan sejarah yang ada ternyata situs Gilang Lipuro ini pantas di kulik. Banyak hal menarik yang bisa ditemukan karena terdapat banyak bukti sejarah bahwa cikal bakal Kerajaan Mataram Islam berasal dari sini.

Situs ini adalah peninggalan Danang Sutawijaya yang tak lain adalah raja pertama Mataram Islam. Berupa batu besar layaknya sajadah, dimana Danang Sutawijaya dan Ki Ageng Pemanahan yang tak lain adalah gurunya menggunakan batu ini untuk ibadah.

Tak hanya untuk sholat atau sembayang tapi juga di gunakan untuk dzikir. Dan konon dibatu inilah Danang Sutawijaya mendapat ilham atau pencerahan untuk mendirikan kerajaan Mataram Islam.

Batu besar yang dijadikan alas sholat ini tak hanya di gunakan Sutawijaya tapi juga di gunakan Ki Ageng Pemanahan yang tak lain adalah guru beliau. Di batu inilah Sang Panembahan mendapat ilham Lintang Johar bahwa beliu harus mendirikan kerajaan Mataram Islam.

Lintang Johar sendiri diartikan sebagai cahaya Jauhar Awwal Rasulullah atau Nur Muhammad. Ilham tersebut termaktub dalam QS. An-Nuur 35 tentang awal penciptaan segala sesuatu yang lapis-lapis cahaya.

Salah satu tradisi masa lampau yang hingga saat ini masih tumbuh adalah tradisi pandai besi. Dimana saat kita berkunjung ke desa ini akan sangat mudah menemukan warga yang berprofesi sebagai pandai besi.

Mereka mayoritas menghasilkan berbagai peralatan pertanian dengan bentuk khas. Dimana alat-alat itu sengaja dibuat dengan menyesuaikan kontur tanah yang ada. Mungkin pada jamannya teknologi mereka telah tepat guna. Hal ini dibuktikan dengan alat-alat pertanian tersebut masih bisa digunakan hingga saat ini.

Berada di kawasan yang kini di sulap menjadi Desa Wisata ini seolah kita akan menyelami masa lampau. Dimana kita akan berada dalam satu wilayah yang kaya akan budaya dan kearifan lokal.

Banyak hal di hadirkan untuk para tamu. Bahkan dalam sebuah diskusi Festival Gilang Lipuro tahun 2017 yang lalu dinyatakan bahwa Desa Gilangharjo akan fokus menggarap desa wisata budaya dan spiritual.

Hal-hal menarik bisa dipelajari saat berkunjung ke Gilangharjo. Satu pengalaman yang cukup menarik tentu saja belajar membatik. Bagaimana membakar nilam dan menggoreskan pada kain hingga menjadi karya nan indah.

Ada juga kerajinan membuat topeng yang telah menembus pasar internasional. beberapa negara yang telah berlangganan antara lain Prancis, Belanda dan Vietnam. Satu karya yang patut diapresiasi karena telah mengharumkan bangsa.

Tak lupa nikmati keindahan seni lukis dan seni tari masyarakat setempat. Bisa juga di desa ini belajar memainkan alat musik gamelan.

Banyak hal bisa dipelajari di wilayah yang sedianya menjadi cikal bakal kerajaan Mataram Islam. Hanya saja untuk menghindari konflik karena wilayah ini berbatasan dengan wilayah lain maka Danang Sutowijaya memindahkan ke area lain yang lebih aman.

Satu sikap yang cukup menarik tentunya dimana para pembesar jaman dulu telah menjaga toleransi dengan yang lain. Tak bisa membayaangkan bila bilau kekeh membangun kerajaan di Gilangharjo. Bisa jadi akan konflik atau terjadi gesekan dengan yang lain.

Untuk menuju situs Gilang Lipuro ini sangatlah mudah. Dari pusat kota Jogja bisa mengambil ringroad selatan dan masuk Jalan Bantul lurus hingga perempatan Bambanglipuro Bantul.

Tak jauh dari sini terdapat SMK Muhammadiyah di sisi kanan kemudian belok kanan hingga ujung. Bila ternyata masih kesulitan ada baiknya untuk tanya warga sekitar. Dengan senang hati mereka akan membantu pencarianmu.

Gilang Lipuro ini mungkin kalah terkenal dengan Watu Gilang yang berada di Kotagede. Namun uniknya ternyata berdasar beberapa catatan diketahui bahwa Watu Gilang tersebut berasal dari hutan Lipuro yang artinya bisa jadi satu sumber atau asal muasal dengan Gilang Lipuro.

Selain itu, jika kalian ingin mencari merchandise dengan tema Jogja’s Legacy dapat mengunjungi situs CrafTown Jogja. Hasil penjualan dari merchandise CrafTown disisihkan untuk donasi kepada komunitas yang concern ke pelestarian Jogja’s Legacy. Dimana mereka benar-benar fokus untuk memperkenalkan Jogja kepada masyarakat luas hingga dunia internasional.

Jogja’s Legacy atau warisan budaya Jogja ini harus diperkenalkan minimal kepada anak cucu kita. Jangan sampai sejarah akan hilang karena tidak ada jejak yang bisa dipelajari dan di jadikan rujukan. Menyakinkan publik bahwa Jogja kaya akan warisan budaya baik itu yang berwujud maupun tidak berwujud.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 Komentar

  1. Pas nyoba cek di Google Maps, ternyata jauh juga. Jalan Bantul bablas terus, udah lewat setengah jalan klo mau ke daerah pantai hahaha

    Btw itu isi “rumah kecil” Petilasannya itu apa ya mas?