Tapa Bisu Mubeng Beteng Sarana Introspeksi Menjelang Tahun Baru

Bagi masyarakat Jawa khususnya mereka yang tinggal di ruang lingkup kraton tahun baru Jawa atau tahun baru Hijiriah jauh lebih berkesan daripada tahun baru Masehi. Banyak diantara mereka yang melakukan upaya introspeksi salah satunya dengan tapa bisu mubeng beteng.

tradisi-tapa-bisu
tribunnews.com

Tapa bisu mubeng beteng ini adalah ritual para abdi dalem dan masyarakat Jogja dengan mengelilingi beteng yang memagari kraton. Jalan yang ditempuh sepanjang 5 kilometer mulai dari Bangsal Ponconiti, Keben, dan berakhir di Alun-Alun Utara Jogja.

Laku tapa bisu dimulai tepat pukul 00:00 WIB tanggal 1 penanggalan Jawa atau Islam. Tak lupa ada prosesi pembacaan tembang berbahasa Jawa atau macapat sebagai pepeling.

Jalan yang ditempuh dalam ritual tahunan ini adalah Jalan Rotowijayan, Jalan Kauman, Jalan Agus Salim, Jalan Wahid Hasyim, Suryowijayan, Pojok Beteng Kulon, Jalan Letjen MT Haryono, Jalan Mayjen Sutoyo, Pojok Beteng Wetan, Jalan Brigjen Katamso, Jalan Ibu Ruswo, dan dan berakhir di Alun-alun Utara.

Berdasar beberapa sumber laku tirakat ini telah berjalan sejak ratusan tahun yang lalu. Ada yang mengatakan sejak 1 Suro 1580 yang mana para prajurit dan abdi dalem mengelilingi Kerajaan Mataram Islam di Kotagede.

Bahkan ada sumber lain yang mengatakan kegiatan unik ini telah ada sejak jaman Mataram Hindu di abad ke-6. Pada jaman itu belum ada yang namanya kraton jadi masyarakat hanya mengelilingi desa dimana mereka tinggal.

Beberapa tahun kemudian desa berkembang menjadi kerajaan dan kegiatan tersebut terus dilakukan. Hanya saja mereka tidak lagi mengelilingi desa tapi kraton sebagai pusat pemerintahan.

Meski telah berumur ratusan tahun tapi tradisi asli Jawa ini tak pernah surut. Hal ini dibuktikan dengan peserta yang terus mengular hingga ratusan meter.

Ribuan peserta ikut hadir dalam kegiatan ini. Mereka berasal dari seluruh wilayah yang ada dalam naungan Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat mulai dari Jogja, Sleman, Bantul, Gunung Kidul dan Kulonprogo. Tak jarang pula banyak peserta yang datang dari wilayah lain.

Selama mereka berjalan tak ada kegiatan lain selain berdiam diri dan berjalan memutari beteng. Tak ada lagi suara atau kegiatan lain. Semua khusuk berjalan sambil berdoa memohan agar tahun yang akan berjalan lebih baik dari tahun sebelumnya.

Pos terkait