Timbul Tenggelam #30haribercerita

Diawal tahun 2024 sekaligus awal bulan Januari saya menemukan hastag atau tagar #30haribercerita. Tidak saja digaungkan oleh mereka yang pernah bekerja bareng dengan saya. Tak sedikit pula mereka yang satu perguruan pun sama.

#30haribercerita
@instagram

Menggunakan tagar #30haribercerita sebagai tanda bahwa mereka (konon) miliki komitmen untuk bercerita selama 30 hari ke depan. Ada banyak hal menarik bisa ditemukan, mulai dari kegelisahan yang ada dalam diri hingga berbagai ‘intrik’ dalam dunia kerja.

Sebagai salah satu orang yang suka bercerita saya tentu sangat senang dengan kondisi ini. Di mana literasi dan keinginan untuk menuliskan sebuah ide, gagasan hingga kegelisahan atas apa yang terjadi.

Ada juga tulisan yang cukup menarik berkisah tentang masa lalu. Bila tidak berkaitan dengan masa disekolah ada pula masa yang tak bisa dilupakan.

#30haribercerita

Mencoba menelusuri #30haribercerita dan ternyata tagar ini telah ada sejak 2017 silam. Artinya bukan hal baru dan memang senantiasa timbul tenggelam.

Pada media sosial instagram hastag #30haribercerita bisa ditemukan hingga 774 ribu. Pun pada twitter akan sangat mudah untuk menemukan #30haribercerita.

Besar kemungkinan antar pelaku kegiatan 30 hari bercerita ini akan saling support satu sama yang lain. Bentuk suport yang ditemukan tentu saja dengan mengaktifkan tanda suka hingga memberikan sebuah komentar positif sebagai apresiasi.

Baca juga: Menulis; Antara Idealisme, Memberi Manfaat atau Waham Kebesaran

Kenapa Harus Bercerita

Dalam hemat saya, kegiatan ini bukan tentang bercerita semata. Lebih dari itu menjadi satu kegiatan untuk sinkronkan antara apa yang ada dihati dan pikiran.

Mencoba mengeluarkan dan membahasakan hingga melatih. Apakah yang ditulis itu sudah tepat atau belum.

Seringkali karena salah pemilihan kata dalam komunikasi justru akan mengaburkan subtansi. Tentu hal ini tidak ingin terjadi dan hal itu harus dilatih.

Kebiasaan baik yang dilatih akan memberi dampak yang lebih baik pula. Bisa untuk jangka pendek maupun jangka panjang.

Baca juga: Menulis adalah Pekerjaan Keabadian

Menulis itu (tidak) Mudah

Menulis itu tidak mudah bagi sebagian orang. Terutama mereka yang jarang berlatih tentu kondisi ini akan sangat menyiksa.

Terlihat jelas dalam tiap pelatihan menulis. Ada diantara peserta yang dalam hitungan menit akan menyelesaikan ratusan kata.

Sementara itu ada pula yang seharian tidak bisa menuntaskan kalimat pertama. Bagi saya pribadi menulis adalah kebiasaan yang terstruktur.

Tidak bisa asal dan harus terus dilatih. Ketrampilan yang butuh proses panjang untuk tiba pada satu titik dan harus terus dilatih.

Bagi saya pribadi dalam kegiatan menulis menggunakan rumus, 90% praktik dan 10% teori. Intinya lakukan dulu dan koreksi kemudian. Jangan sampai proses belum berjalan dan sudah melalukan proses koreksi.

Yang ada kemudian hanya akan melihat produk yang tidak ada alias kosong. Atau secara sederhana tidak ada bahan yang kemudian bisa digunakan sebagai latihan.

Buat kamu yang telah mulai #30haribercerita terus lakukan dan jangan hanya 30 hari saja. Akan tetapi lakukan tiap hari dan tak ubahnya bernapas di mana tanpa kegiatan ini kita akan mati.

Pun demikian bagi mereka yang terbiasa menulis dan bila satu ketika harus berhenti tentu ada rasa yang hilang. Dan solusinya tentu saja menulis, gunakan bahan yang ada disekitar dan jangan dipersulit.

Pos terkait