Sebuah pertunjukan monolog satir bertajuk “Hanya Orang Gila yang Bilang Negeri Ini Baik-Baik Saja” akan digelar pada 4 Februari 2026 di Gedung Societet Militaire, Taman Budaya Yogyakarta. Pertunjukan ini dipersembahkan oleh Family Merdeka Productions sebagai sebuah karya panggung yang menghadirkan refleksi kritis terhadap realitas sosial yang kerap diselimuti kepura-puraan.

Monolog ini bukan sekadar pertunjukan hiburan. Ia tidak datang untuk menenangkan, apalagi meninabobokan penonton dengan narasi yang nyaman. Sebaliknya, pertunjukan ini secara sadar menghadirkan kegelisahan untuk mengusik, mengguncang, dan membuka kembali pertanyaan-pertanyaan yang selama ini disimpan rapat dalam diam.
Mengangkat tema tentang tawa, luka dan budaya berpura-pura, monolog ini mengajak penonton menyadari bahwa tidak semua tawa lahir dari kebahagiaan. Di atas panggung, tawa justru tampil dalam bentuk yang pahit, getir, dan kadang menyakitkan.
Ia menjadi simbol dari cara masyarakat menertawakan luka, menormalisasi kejanggalan, serta menerima kebohongan sebagai bagian dari keseharian.
Hanya Orang Gila yang Bilang Negeri Ini Baik-Baik Saja
“Hanya Orang Gila yang Bilang Negeri Ini Baik-Baik Saja” memotret sebuah kondisi sosial ketika diam sering kali dipuji sebagai kebijaksanaan, sementara keberanian bertanya dianggap mengganggu ketertiban. Dalam situasi seperti ini, suara-suara kecil perlahan disingkirkan. Bukan melalui represi yang terang-terangan, melainkan lewat kebiasaan untuk patuh dan tidak banyak berpikir.
Monolog ini bekerja layaknya cermin yang retak. Apa yang terpantul bukan sekadar cerita di atas panggung, melainkan wajah penonton itu sendiri.
Retakan-retakan tersebut menghadirkan potret tentang kewarasan yang kerap dicap sebagai kegilaan, tentang kejujuran yang dianggap berisik, serta tentang keberanian berpikir kritis di tengah budaya yang lebih menghargai kepatuhan dibandingkan pertanyaan.
Dengan pendekatan satir, pertunjukan ini tidak menawarkan jawaban pasti maupun solusi instan. Tidak ada sikap menggurui atau klaim kebenaran tunggal.
Penonton tidak diarahkan untuk sepakat, melainkan diajak untuk meragukan, mempertanyakan, dan merenungkan kembali apa yang selama ini diterima begitu saja. Dalam konteks ini, monolog menjadi ruang dialog batin yang jujur meski sering kali terasa tidak nyaman.
Family Merdeka Productions sebagai penyelenggara melihat seni pertunjukan sebagai medium yang relevan untuk menyuarakan kegelisahan sosial. Melalui monolog ini, mereka berupaya menghadirkan panggung sebagai ruang aman bagi pertanyaan-pertanyaan kritis yang kerap terpinggirkan dalam diskursus sehari-hari. Tanpa ornamen berlebihan, kekuatan pertunjukan bertumpu pada kata, gestur, dan keheningan yang berbicara.
Gedung Societet Militaire Taman Budaya Yogyakarta dipilih sebagai lokasi pertunjukan karena nilai historis dan kultural yang begitu kuat. Ruang ini diharapkan dapat memperkuat pengalaman menonton, sekaligus menghadirkan suasana yang intim bagi penonton untuk berhadapan langsung dengan gagasan-gagasan yang disampaikan di atas panggung.
Melalui “Hanya Orang Gila yang Bilang Negeri Ini Baik-Baik Saja,” penonton diundang untuk datang bukan demi mencari jawaban. Pertunjukan ini justru mengajak publik pulang dengan pertanyaan-pertanyaan baru tentang diri sendiri, tentang masyarakat, dan tentang negeri yang kita hidupi bersama.
Monolog ini menjadi pengingat bahwa bertanya masih mungkin, bahwa berpikir kritis belum sepenuhnya mati, dan bahwa seni tetap memiliki peran penting sebagai cermin sosial meski retak, namun jujur




