Ada yang spesial pada gelaran Ngaji Budaya 2025 DIY. Kegiatan ini digelar pada Sabtu, 15 November 2025 bertempat di Gedung Multipurpose UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Tak tanggung-tanggung panitia menghadirkan Sabrang Mawa Damar Panuluh atau yang biasa disapa Noe Letto. Ia tak sendiri tapi juga membawa Letto dan Kiai Kanjeng. Grup musik yang begitu populer di tanah air dengan lagu penuh makna.
Ngaji Bareng ini diselenggarakan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) Kementerian Agama RI. Kegiatan yang menggabungkan nilai-nilai keagamaan dengan seni dan budaya ini tak pernah sepi pengunjung.
Tercatat tak kurang dari 1.000 peserta hadir dalam kegiatan ini. Bukan hanya mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta saja tapi ada juga tamu undangan yang berasal dari penyuluh Kanwil Kemenag DIY.
The Wonder of Harmony: Merawat Toleransi dan Keberagaman Tradisi dan Budaya
Tema yang diambil dalam kegiatan kali ini adalah The Wonder of Harmony: Merawat Toleransi dan Keberagaman Tradisi dan Budaya. Dan Mas Noe mampu mengupas tema ini dengan sempurna.
Di mana Indonesia memiliki sumber daya yang mumpuni untuk menciptakan harmoni. Namun demikian ada tantangan yang menantang dan hal ini harus dihadapi dengan optimistis.
Masih menurut putra Emha Ainun Nadjib ini, kata kata harmoni memang lahir dari dunia musik. Harmoni akan tercipta ketika berbagai nada dari alat musik bisa bergerak bersama.
Kegiatan ini dihadiri sejumlah tamu penting mulai dari Dirjen Bimas Islam Kemenag RI Prof. Abu Rokhmad, Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Noorhaidi Hasan, Direktur Penerangan Agama Islam Ahmad Zayadi, Staf Ahli Menteri Agama Bidang Hukum dan HAM Faisal Hasyim, Kakanwil Kemenag DIY Ahmad Bahiej, Direktur Jaminan Produk Halal M. Fuad Nasar, hingga Kabid Penais Zawa Nurhuda.
Baik Letto maupun Kiai Kanjeng memainkan beberapa lagu terbaik mereka. Dua lagu diantaranya yang begitu populer dan mampu menghipnotis pengunjung tentu saja ada Ruang Rindu dan Sebelum Cahaya.
Dalam sambutannya Dirjen Bimas Islam Prof. Abu Rokhmad menegaskan akan pentingnya memperkuat nilai harmoni dan kemanusiaan terutama di kalangan mahasiswa. Generasi muda memiliki peran strategis dalam upaya memperluas pesan toleransi.
Selanjutnya, Abu Rokhmad juga mengatakan bahwa salah satu misi Bimas Islam adalah menghadirkan wajah agama yang menyejukkan. Agama yang indah dipraktikkan sekaligus mudah dipahami seluruh lapisan masyarakat.
Sekadar catatan, kegiatan ngaji budaya kali ini juga bertepatan dengan Hari Toleransi Sedunia yang diperingati setiap 16 November. Budaya menjadi wadah ekspresi bagi semua pihak dan dengan agama menjadi hubungan simbiosis mutualisme.
Berkaca dari penyebaran agama islam di tanah Jawa, dimana dulu Sunan Kalijaga menyebarkan agama melalui media wayang dan gamelan. Menjadi bukti nyata bahwa keduanya tidak terpisahkan.
Sekilas Ngaji Budaya 2025
Sekadar catatan, Ngaji Budaya ini menjadi salah satu program andalan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI. Sebelum di Jogja kegiatan serupa telah digelar di beberapa kota lainnya.
Ngaji Budaya pertama digelar pada 2025 di Masjid Istiqlal dengan tema Deklarasi Istiqlal dalam Perspektif Budaya. Diadakan pada 26 Februari 2025 dan fokus membahas harmoni Islam dan budaya dalam membangun peradaban inklusif.
Pada 2 Mei 2025 digelar di Wonosobo, Jawa Tengah dengan tema Jejak Kedamaian dalam Warisan Budaya Islam di Nusantara. Selanjutnya pada 23 Juni 2025 di Kemenag RI digelar Ngaji Budaya dengan tema Pesan Ekoteologi dalam Perspektif Kearifan Lokal Nusantara.
Pada 17 Juli 2025 dilaksanakan di Kota Singkawang, Kalimantan Barat dengan tema Harmoni Nusantara: Merawat Toleransi di Bumi Seribu Kelenteng. Sebelum di Jogja kegiatan serupa digelar di UIN Walisongo Semarang pada Oktober 2025 lalu dengan keynote speaker Noe Letto.





