SURABAYA – Gelaran seni bertajuk BUMI: Integralitas Tubuh–Rasa resmi dibuka di Galeri Dewan Kesenian Surabaya (DKS) pada 1 Desember 2025 malam. Pameran ini langsung menyedot perhatian publik karena menyorot isu ekologi melalui pendekatan seni lintas disiplin.

Pameran ini akan berlangsung selama sepekan, mulai 1 hingga 7 Desember 2025 dan menghadirkan puluhan seniman dari berbagai kota. Kegiatan ini dibuka oleh Syaiful Mudjib, seniman dan tokoh dari Surabaya.
Dalam sambutannya, Syaiful menegaskan bahwa pameran ini menjadi ruang penting untuk membaca kondisi bumi melalui bahasa kesenian. Menurutnya, karya-karya yang ditampilkan memberi cara baru untuk memahami kerusakan ekologis tanpa menggurui.
Pameran BUMI menampilkan karya lebih dari 35 seniman, mulai dari Uret Pariono, Caulis Itong, Radillah, Hananta, Merlyna AP, Adhik Kristiantoro, Risdianto, hicak, Lanjar jiwo, EFKA mizan, S.E Dewantoro (Gepeng), Imam Rastanegara, Bang Toyib, Hendra Cobain, Agus Cavalera, Ibob Susu, Robi Meliala, Dani Croot, Afif, Helmy Hazka, Suki, Rinto Agung, Susilo Tomo, Dwest, Bely, Bayu Kabol, Anggoro, Mie Gemes, Gopel, Rusdam, Miki, Boy Tatto, Arsdewo, Heri Purnomo, Syalabia yasah, Hallo Tarzan, Rinto Agung.
Selain itu juga menampilkan beberapa komunitas seperti BAKAR (Batalyon Kerja Rupa) SeBUMI, FAMILY MERDEKA, INJAK TANAH, MOM, BOMBTRACK hingga ATOZ. Kegiatan ini didukung penuh oleh Dewan Kesenian Surabaya, Dewan Kesenian Jawa Timur, Slamet Gaprax, Irma, Paksi, AKA Umam, Komunitas pengamen Bungurasi A minor, Pokemon, Mak Yati (Teater Api), Hose Of P studio, Pena Hitam, Kopi Sontoloyo & Sontoloyo Gubeng Surabaya, Organized Chaos Sound, Art Cukil Tshirt serta makhluk yang tak terlihat.
Mereka mengisi ruangan galeri dengan instalasi, lukisan, teks, arsip suara, puisi hingga performance yang bergerak di antara isu tubuh, tanah, dan perubahan ekologis. Konsep pameran dirumuskan oleh Hari Prajitno M.Sn, yang menempatkan tanah sebagai medium utama eksistensi manusia.
BUMI: Integralitas Tubuh–Rasa

Ia menjelaskan bahwa seluruh karya dalam pameran ini berangkat dari gagasan bahwa tubuh manusia dan bumi memiliki keterhubungan material. “Tubuh dan tanah bukan dua hal yang terpisah. Kita berasal dari tanah, dan suatu hari akan kembali ke tanah,” tegasnya.
Salah satu fokus pengunjung adalah instalasi visual yang menampilkan citra tanah retak, tekstur bumi yang rusak, serta bunyi-bunyian yang memotret suasana ekologis terkini. Karya-karya tersebut menciptakan atmosfer yang membuat pengunjung merasakan kondisi bumi secara langsung, bukan sekadar membaca data atau kampanye.
Tak hanya itu saja tapi dalam event kali ini ada kegiata lain yang tak kalah menarik seperti penanaman pohon di hutan kota, workshop cukil dan batik di Gang Dolly dan diskusi seni.
Selain pameran karya, acara ini juga memutar film dokumenter garapan Daniel Rudi Haryanto. Film tersebut menampilkan potret kerusakan lingkungan di berbagai daerah, disajikan tanpa narasi berlebih, namun cukup kuat membangun kesadaran penonton tentang kondisi yang sedang berlangsung.
Serangkaian Kegiatan di Hari Pertama
Pada hari yang sama, panggung performance di galeri diisi oleh Pandai Api, dan Family Merdeka, Bombtrack, Magixridim, Arul Lamandau. hadir sebagai host ada Berkah Aulia.
Selanjutnya masih ada kegiatan lain yang tak kalah menarik dan dipandu Deni indrayanti Dan Caulis Itong. Kegiatan yang mampu menampilkan performance dengan gaya khas masing-masing dan membawa energi yang memperkuat pesan pameran: manusia dan bumi tidak terpisah; krisis ekologi adalah krisis tubuh itu sendiri.
Pameran tidak hanya menampilkan poster ajakan menyelamatkan lingkungan. Tidak ada slogan klise. Pesan ekologis disampaikan lewat pengalaman inderawi: suara gesekan, cahaya redup, tubuh performer, aroma material bumi hingga keheningan yang sengaja dihadirkan.
Pendekatan ini membuat BUMI tampil berbeda dibanding pameran bertema lingkungan pada umumnya. Memberi pengalaman terbaik dan tak biasa bagi para pengunjung. Bahkan salah satu pengunjung mengatakan bahwa saat ini seolah diajak melihat bumi dari dalam tubuh sendiri.
Pameran BUMI: Integralitas Tubuh–Rasa masih berlangsung hingga 7 Desember di Galeri DKS, Jalan Gubernur Suryo No.15, Embong Kaliasin, Surabaya. Panitia memastikan pameran tetap dibuka setiap hari hingga penutupan.
Acara ini menjadi salah satu agenda seni paling reflektif di akhir tahun, dan membawa pesan keras bahwa bumi sedang berbicara, tinggal apakah manusia mau mendengarnya atau tidak!





