Usianya tak muda lagi, namun tangan kokoh dan kaki cekatan itu tak pernah berhenti untuk bekerja. Seolah ia tenggelam dalam kebahagiaan tersendiri saat menenun dan baginya waktu berlalu begitu cepat.

Mbah Warsih begitu ia biasa disapa, berdasar informasi yang disampaikan saat ini telah berusia 75 tahun. Ia menenun sejak usia belum genap 20 tahun dan artinya tak kurang dari 55 tahun ia telah berada di belakang alat tenun bukan mesin (ATBM).
Warga Setran, RT: 03, RW: 27, Sumberarum, Moyudan, Sleman ini menjadi saksi bahwa wilayah mereka pernah berjaya sebagai sentra industri tenun. Bila dulu jumlah pengrajin ada puluhan tapi kini tersisa sekitar 12 orang saja.
Mereka ini rata-rata termasuk lansia, tidak ada anak muda yang benar-benar bersedia meneruskan wastra yang satu ini. Mayoritas anak-anak memilih profesi lain, pun Mbah Warsih kini menjadikan tenun bukan lagi sumber pendapatan utama namun sebagai cara mengisi waktu luang setelah dari sawah.
Baca juga: Rumah Produksi Mocaf Monalisa Berdayakan Masyarakat Rentan, Ubah Singkong Lebih Bernilai
Ia mengatakan saat ini cukup kesulitan untuk menjual produk yang ada. Berbeda dengan dulu dimana berapapun tenun dihasilkan akan dengan mudah dijual.
Saat ini butuh perjuangan untuk bisa menjual hasil tenun. Semisal ada salah satu pembeli yang masih eksis dan ada di Pasar Ngijon. Dimana untuk menjual stagen yang ada ia harus datang jam 10 malam dan pagi baru dilayani.
Selain di Pasar Ngijon kini mbah Warsih juga bisa menjual hasil tenun di Pakelan, Sumberarum, Moyudan. Menariknya di tempat ini pengrajin tidak hanya bisa menjual hasil tenun tapi juga bisa mendapatkan bahan baku untuk membuat tenun beserta berbagai perlengkapan yang dibutuhkan.
Baca juga: KWT Mekar Lestari Menuju Eduwisata Berbasis Pertanian
Pendamping UMKM sebagai Solusi

Kondisi ini tidak saja hanya dialami mbah Warsih, akan tetapi juga ratusan pelaku usaha yang menjadi mitra BAZNAS Sleman. Tak salah kemudian bila BAZNAS Sleman menerjunkan pendamping UMKM untuk hadir secara langsung.
Bagaimana 2 pendamping UMKM disiapkan secara khusus untuk membantu menyelesaikan masalah para pelaku usaha. Berdasar hasil observasi lapangan diketahui bahwa setidaknya ada 3 masalah utama yang harus diselesaikan.
Yang pertama terkait perizinan karena masih cukup banyak pelaku usaha yang belum melek akan hal ini. Mayoritas pelaku usaha adalah masyarakat bawah, baik itu dari sisi pendidikan maupun ekonomi membuat mereka hanya fokus untuk kemudian bisa bertahan.
Yang kedua terkait akses pasar, seperti yang telah disampaikan Mbah Warsih, beliau mampu memproduksi tenun dalam jumlah banyak tapi kini cukup kesulitan untuk menjual. Hal ini kemudian menjadi PR bersama yang harus diselesaikan.
Bukan hanya pelaku usaha dan pendamping UMKM tapi juga stakeholder yang ada. Bagaimana kemudian produk UMKM ini bisa menjangkau pasar yang lebih luas sehingga produksi bisa digenjot.
Yang ketiga berkaitan dengan adopsi digital, mayoritas pelaku usaha yang menjadi mitra BAZNAS telah berumur. Mereka ini butuh dukungan anak muda untuk kemudian produk bisa dengan mudah ditemukan masyarakat luas terutama di mesin pencari.
Pendamping UMKM tentu tidak bisa bekerja sendiri. Butuh dukungan dari berbagai pihak untuk kemudian pelaku UMKM ini bisa naik kelas. Mereka yang akan sangat berperan antara lain pemerintah, swasta hingga masyarakat sekitar yang peduli.
Kini Pendamping UMKM BAZNAS pun telah berkolaborasi dengan berbagai pihak terkait. Tujuannya bagaimana kemudian para pelaku usaha ini bisa bertumbuh dan berkembang. Mereka mampu menjadi pelaku usaha yang tangguh dalam menghadapi persaingan global.
Seperti kita tahu adanya perkembangan teknologi membuat kebiasaan berbelanja berubah. Mereka yang ingin belanja akan lebih dulu membuka smartphone dan mencari informasi. Bila produk tidak bisa ditemukan hampir pasti akan ditinggalkan.
Hal ini tentu tidak ingin terjadi, pelaku usaha pun kini harus adaptif sehingga mereka tidak hanya bertahan tapi bisa memenangkan persaingan. Semua itu akan realistis bila pelaku usaha mampu memiliki perizinan minimal, membuka akses pasar yang lebih luas dan mengoptimalkan teknologi digital.





