Bisnis apapun itu skalanya tetap butuh perencanaan yang baik. Namun sebelum pada titik itu paling penting adalah bagaimana pelaku usaha memiliki mindset yang tepat.

Jangan asal jalan dan kemudian menyesal kenapa tidak sejak dulu melakukan perencanaan yang tepat. Adanya mindset dan perencanaan yang baik akan membantu sebuah usaha berkembang dengan terstruktur.
Cukup banyak cara yang bisa dipilih untuk membantu mengembangkan mindset yang ada. Salah satu yang populer tentu dikenal dengan Business Model Canvas (BMC).
Konsep ini terlihat jadul tapi pada faktanya masih mampu menjawab kebutuhan yang ada. Bisa diterapkan pada jenis usaha apapun, mulai dari usaha ultra mikro hingga yang besar.
Business Model Canvas
BMC bisa digunakan untuk menuntun pelaku usaha berpikir dan bekerja lebih efektif. Menjadi fondasi atau dasar yang harus benar-benar dipahami pelaku usaha dan menuntun proses lebih tepat sasaran.
Agar bukan hanya sekadar mengisi 9 kolom BMC maka ada baiknya perhatikan beberapa hal berikut ini sebelum melangkah lebih jauh.
1. Mindset sebagai Fondasi dalam Perencanaan Bisnis
BMC mampu memvisualisasikan apa yang harus ada dalam sebuah usaha dari ujung ke ujung. Menjadi kertas kerja yang selalu digunakan untuk perencanaan lebih matang.
Dalam BMC akan terlihat dengan jelas proposisi nilai, segmen pelanggan, saluran distribusi, hingga arus pendapatan dan struktur biaya. Proses ini tidak bisa dilakukan sembarangan dan membutuhkan pola pikir terbuka, analitis dan berorientasi pada solusi bukan masalah yang nampak.
Banyak pelaku usaha sulit berkembang dan bukan hanya karena produk yang kurang bersaing. Akan tetapi pada umumnya juga karena memiliki mindset yang terlalu fokus pada operasional tanpa memahami gambaran besar.
Dengan mindset growth maka bisnis yang ada dapat berkembang dengan baik. Perlu adanya proses belajar dan adaptasi agar pelaku usaha mampu menyusun BMC secara realistis dan visioner.
2. Mindset Inovatif untuk Menentukan Proposisi Nilai
Pada elemen Value Proposition, pelaku usaha ditantang untuk menjawab: “Apa nilai unik dari produk atau layanan yang saya tawarkan?”
Tanpa mindset inovatif, pelaku usaha seringkali hanya meniru kompetitor sehingga sulit bersaing. Namun dengan pola pikir kreatif dan berani berbeda, pelaku usaha mampu menggali keunikan produknya.
Sebagai contoh pelaku usaha bidang kopi, sudah saatnya bukan hanya sekadar menjual kopi, tetapi menawarkan kopi lokal yang memperkuat komunitas petani. Atau mereka yang menjual makanan rumahan, ada baiknya juga memberikan pengalaman personal melalui menu harian yang dibuat dari resep keluarga.
Inovasi muncul dari mindset yang terbuka terhadap ide baru dan perubahan tren pasar. Adaptif saat ini telah menjadi sebuah keharusan untuk produk bisa diterima pasar.
3. Mindset Empati untuk Memahami Segmen Pelanggan
Penting bagi pelaku usaha untuk menentukan market / segmen pelanggan yang tepat. Hal ini berkaitan untuk menyelaraskan produk dengan kebutuhan pelanggan. Dalam prosesnya tentu memerlukan mindset empati atau kemampuan menempatkan diri pada posisi pelanggan.
Dengan empati, pemilik usaha dapat membuat keputusan yang lebih tepat dalam penentuan harga, kemasan, bahkan strategi promosi. Menjadikan BMC bukan sekadar dokumen, tetapi refleksi kebutuhan pelanggan yang nyata.
4. Mindset Adaptif dalam Memilih Saluran Distribusi
Saluran distribusi yang tepat akan membawa pengalaman terbaik bagi pelanggan untuk menemukan produk yang ada. Kemajuan teknologi harus ditangkap sebaik mungkin karena apa yang dulu dianggap tidak mungkin kini begitu mudah ditemukan disekitar.
Platform digital menjadi solusi yang tidak terelakkan dan semua pelaku usaha harus mampu adaptif. Tidak harus menggunakan semua, cukup pilih satu atau dua platform tapi benar-benar tepat.
Memahami customer journey atau bagaimana pelanggan bisa mendapat produk kita juga harus diperhatikan. Cara terbaik ada baiknya terus diduplikasi untuk mendapat pelanggan sebanyak mungkin sekaligus menjaga pelanggan setia.
5. Mindset Kolaboratif dalam Membangun Kemitraan
Jangan pernah takut berkolaborasi dengan pihak lain. Cara ini akan membuka peluang yang lebih besar. Setiap orang memiliki perannya masing-masing dan saatnya menjadi spesialis dan bukan lagi generalis untuk memenangkan persaingan.
Melalui mindset kolaboratif, pelaku usaha akan lebih terbuka untuk menjalin kerja sama dengan pemasok / supplier, komunitas bisnis, perusahaan logistik dan pihak ketiga lainnya. Kolaborasi dapat memperkuat rantai nilai dan menekan biaya operasional.
6. Mindset Finansial yang Bijak dalam Mengelola Struktur Biaya dan Pendapatan
Meski pelaku usaha tidak berlatar belakang keuangan ataupun akunting tapi tetap kemampuan ini harus dimiliki. Tidak harus benar-benar menguasai tapi setidaknya konsep paling dasar dipahami.
Dengan cara ini maka setiap keputusan akan lebih terukur dan mempertimbangkan risiko bisnis yang ada. Catat semua biaya yang keluar dan bukan hanya yang terlihat tapi juga yang tidak terlihat seperti parkir harian.
Bisnis itu harus lebih banyak pendapatan daripada pengeluaran. Menjadi penting kemudian setiap keputusan berkaitan keuangan jangan terlalu reaktif tapi benar-benar diperhitungkan.
Mindset finansial yang bijak berarti mampu:
- Memprioritaskan biaya penting
- Menghitung potensi keuntungan jangka panjang
- Berani investasi pada hal yang memajukan bisnis
- Tidak hanya fokus pada keuntungan cepat tapi lebih pada proses terukur
Business Model Canvas menjadi satu cara atau alat yang efektif untuk merancang dan mengembangkan bisnis yang ada. Akan tetapi alat ini hanya akan memberikan dampak optimal bila pelaku usaha memiliki mindset yang tepat, mulai dari inovatif, adaptif, empati, kolaboratif, hingga bijak finansial.
Mindset inilah yang kemudian menjadi fondasi untuk melihat peluang, mengatasi tantangan, dan membuat keputusan strategis yang tepat. Dengan pola pikir yang kuat dan tepat, BMC menjadi peta jalan yang membantu bisnis tumbuh secara berkelanjutan.
Bagi Anda yang penasaran bagaimana cara memperbaiki mindset yang ada dan diwujudkan dalam bentuk BMC maka ada baiknya ikuti pelatihan berikut ini.





