Berkaca, Maka Kita Tahu Siapa Diri Kita

Sebuah realita kalau apa yang kita lakukan mendapat penilaian orang lain. Perbuatan baik buruk, melibatkan atau tidak melibatkan orang lain pasti akan dikomentari. Menjadi kebutuhan untuk meng”ada” diantara hiruk pikuk orang lain mungkin dapat dikatakan suatu yang sifatnya wajib.

ilustrasi
kanaljogja.com

Sama halnya bila ada yang berpendapat bahwa kita mahluk sosial. Mahluk yang harus ada diantara kerumunan. Bukan hanya untuk saling membantu bila ada kebutuhan. Tapi juga memenuhi kebutuhan emosional semacam membicarakan orang lain, entah baik atau buruk.

Menjadi tolak ukur dan bahan pembicaraan yang menyenangkan, dulu katanya kaum hawalah yang memiliki hak atas gosip. Sekarang lihatlah disekitar kita, bukan hanya aku dan kamu yang suka bergosip ria tapi semua dari golongan usia.

Tak ada yang salah dengan gosip. Setidaknya dengan bergosip kita akan tahu kebaikan dan keburukan kita. Tidak hanya mau menilai orang lain, toh kita juga pantas menggosipi diri sendiri. Ada baiknya bila kita juga berkaca seperti apa diri kita sehingga pantas menilai orang lain.

Tak perlu banyak berpikir dan memaksa perasaan, cukup dengan kesediaan jujur bahwa semua orang rata-rata sama. Sangat sulit mencari orang yang lebih, dalam arti jauh lebih baik atau lebih buruk, kalau ada perbedaan hanyalah sedikit itupun karena sudut pandang yang seringkali salah pilih.

Menilai diri sendiri dengan hal-hal yang menyenangkan dan menilai orang lain dengan sesuatu yang kurang mengenakan adalah sebuah kewajaran. Membuat standar yang seringkali tidak berimbang sekadar menutupi dan menyenangkan diri sendiri.

Pernah juga pada kondisi kita hanya membicarakan orang lain. Waktu berlalu begitu cepat tak terasa sudah dalam hitungan jam. Namun kalau sedang apes menjadi orang yang terekspolitasi, terdzolimi dan teraniaya waktu yang berjalan masih dalam hitungan menit rasanya sudah dipanggang berjam-jam.

Menyenangkan juga dalam kondisi jadi penonton, cukup tersenyum kalau ada yang tersentil dan tertawa bila yang lain ikut tertawa. Seolah itu naluri yang tidak perlu dipelajari semua terjadi secara tiba-tiba atau lebih tepatnya reflek.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *