Gelaran pameran arsip Merawat Pijar, Menyelaras Bunyi telah berakhir dan meninggalkan kesan mendalam bagi mereka yang hadir dan terlibat langsung dalam gelaran selama 4 hari. Kegiatan sebagai penanda 3 dekada KuaEtnika ini dilaksanakan pada 1-4 Mei 2026 bertempat di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja Dusun Kembaran, Tamantirto, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kegiatan ini menyuguhkan berbagai karya dari KuaEtnika, Romo Farano, Angga Yuniars, Hendra Irawan dan Doni Maulistya. Sementara itu hadir Nandhika Fardha Azzahra sebagai kurator.
Pameran ini merupakan inisiasi Kelompok 7 (Jejak Ngrumat Karya) yang berupaya mengenang Kembali proses 3 dekade KuaEtnika. Mengundang masyarakat luas untuk melihat dan memaknai kembali perjalanan artistik kelompok seni musik yang telah hadir sejak 1996 lalu ini.
Merawat Pijar, Menyelaras Bunyi
Acara dibuka seniman kondang Butet Kartaredjasa. Kakak Djaduk Ferianto banyak bercerita tentang hadirnya KuaEtnika hingga perjalanan grup musik asal Jogja ini. Putra Bagong Kussudiardjo ini juga bercerita peran mendalam almarhum Djaduk Ferianto hingga kelompok ini masih bertahan hingga saat ini.
Pria berkacamata ini menekankan pentingnya kerja pengarsipan untuk mendukung keberlangsungan sejarah terutama seni. Selain itu ia memberi apresiasi untuk Jejak Ngrumat Karya yang telah menghadirkan kembali perjalanan KuaEtnika ke ruang publik.
Pada malam pembukaan KuaEtnika dihadirkan dan mereka membawakan lagu-lagu andalan seperti Angin, Ulan Andung-Andung dan Swarnadwipa. Lagu itu kian istimewa dengan hadirnya Silir Pujiwati sebagai vokalis.
Gallery Tour Kuratorial
Selain musik yang apik pada malam pembukaan ini juga hadir Gallery Tour yang dipandu kurator pameran Nandhika Fardha. Antusiasme pengunjung nampak terlihat saat kurator menjelaskan berbagai arsip dan karya yang ada.
Setidaknya ada 53 item arsip dan karya dipamerkan. Ruang galeri dibagi beberapa sisi untuk membantu pengunjung memahami evolusi artistik KuaEtnika secara terstruktur.
Mulai dari ruang Instrumen Ikonik yang menyajikan alat musik bersejarah dan ikonik KuaEtnika. Selanjutnya ada Dua Alat Musik Interaktif yang menampilkan instrumen unik yang bisa dimainkan langsung oleh pengunjung. Terakhir ada Arsip Dokumenter yang berisi catatan proses, potret panggung hingga kliping koran yang merekam perjalanan kreatif KuaEtnika dari tahun 1996 hingga 2026.
Gelaran ini makin menarik dengan adanya akses gratis bagi mereka yang berkunjung pada tanggal 3 dan 4 Mei 2026. Hal ini sebagai upaya untuk menjangkau pengunjung lebih luas.
Di hari terakhir pada 4 Mei digelar side event Screening Film karya mahasiswa Film dan Televisi ISI Yogyakarta. Mereka yang hadir dalam gelaran ini mayoritas anak muda yang ingin tahu lebih dalam sejarah KuaEtnika
Kegiatan ini merupakan kolaborasi untuk merayakan pertemuan sejarah musik dan ekspresi visual generasi muda.




