Filosofi Sayur Lodeh Tujuh Warna yang Jarang Diketahui

  • Whatsapp

Bagi saya menikmati sayur lodeh itu hal yang lumrah. Baik ibu maupun istri saya terlalu sering memasak sayur sederhana. Namun siapa sangka ternyata sayur lodeh tujuh warna memiliki filosofi yang sangat mendalam.

sayur-lodeh tujuh warna
shutterstock.com

Dikatakan 7 warna karena memang dalam sayur ini terdapat aneka bahan yang di jadikan satu. Tapi uniknya rasa itu saling menguatkan satu sama lain bukan melemahkan.

Mungkin tak hanya saja tapi juga bagi yang lain. Menjadi menarik kemudian ternyata sayur lodeh bisa di terima di seluruh lapisan masyarakat. Tak hanya itu saja tapi sayur ini pun di sukai hingga manca negara.

Kembali ke bahasan filosofi sayur lodeh tujuh warna dimana dalam pembuatannya memang setidaknya menggunakan 7 bahan pokok. Masing-masing bahan ternyata memiliki arti tersendiri.

Dan berikut komposisi sayur lodeh tujuh warna:

1. Kluwih: kluwargo luwihono anggone gulowentah gatekne artinya keluarga
menjadi prioritas utama dan harus lebih diurusi dan diperhatikan.
2. Cang gleyor: cancangen awakmu ojo lungo-lungo artinya cukuplah dirimu berada di dalam rumah atau ikatlah dirimu untuk jangan pergi-pergi.
3. Terong: terusno anggone olehe manembah Gusti ojo datnyeng artinya lanjutkan untuk senantiasa beribadah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
4. Kulit melinjo: ojo mung ngerti njobone, ning kudu ngerti njerone babakan pagebluk artinya melihat sesuatu jangan hanya dari luar, tapi juga harus mengetahui yang ada di dalamnya.
5. Waluh: uwalono ilangono ngeluh gersulo artinya hilangkanlah sifat untuk suka mengeluh.
6. Godong so: golong gilig donga kumpul wong sholeh sugeh kaweruh artinya silakan berkumpul dengan orang-orang yang saleh dan orang pintar.
7. Tempe: temenono olehe dedepe nyuwun pitulungane Gusti Allah artinya yakinlah untuk senantiasa memohon pertolongan Tuhan.

Dengan berbagai filosofi diatas tentu saja wajar kemudian bila sayur ini banyak di buru di masa pandemi. Fakta menarik terkait sayur lodeh ternyata memiliki sejarah panjang.

Menurut analisa sejumlah pakar, sayur lodeh ini di percaya telah ada sejak abad ke-10 di Jawa Tengah. Mereka mengkonsumi aneka sayur ini untuk bertahan dari letusan Gunung Merapi di tahun 1006.

Namun menurut sejarawan makanan Fadly Rahman mengatakan bahwa sayur lodeh telah ada sejak abad ke-16. Di tandai dengan kedatangan Spanyol dan Portugis yang memperkenalkan kacang panjang di Pulau Jawa.

Baca juga: Liburan Ala Pedesaan ke Jogja

Sementera itu ada pakar lain berpendapat bila memasak sayur lodeh adalah “tradisi kuno”. Kegiatan yang mulai di perkenalkan pada akhir abad ke-19 dimana banyak mitos nasional di temukan dengan berbagai cara, dirayakan, dan diciptakan.

Pendapat paling mendekati kemunculan sayur lodeh 7 warna adalah munculnya wabah pes di tahun 1931. Kala itu Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) VIII menyerukan agar warga Jogja memasak sayur lodeh dengan filosofi diatas.

Berdasar catatan Scott Anthony dari BBC.com, Sultan memerintahkan warga memasak sayur lodeh dan tetap tinggal di rumah selama 49 hari. Dan ternyata benar tindakan itu dan oleh warga Jogja di yakini bila sayur lodeh ini mampu menolak bencana.

Lebih dari itu sebenarnya pesan yang ingin di sampaikan tentang memasak sayur lodeh adalah wujud solidaritas sosial. Dimana bila seluruh warga memasak satu menu yang sama maka akan tercipta rasa kebersamaan yang kuat.

Baca juga: Sumbu Filosofi Jogja

Seperti yang terjadi saat ini, di kutip dari suarajogja.id di mana Revianto Budi Santoso, selaku guru yang mempelajari warisan budaya Jawa mengatakan bahwa menghindari satu hal yang buruk adalah prioritas utama dan hal ini membutuhkan gotong royong atau kebersamaan seluruh warga.

Bila kebetulan saat ini sedang masak sayur lodeh ada baiknya di cek, masihkah sayur lodeh tujuh warna atau telah berubah. Selamat menikmati

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar