Sirine Gaok Menara Dengan Terompet Yang Mengendalikan Jogja

Mungkin masih banyak yang belum tahu kalau di dekat Pasar Beringharjo masih ada satu situs atau peninggalan masa Perang Dunia II. Peninggalan tersebut berupa menara setinggi lebih kurang 20 meter dengan terompet di ujungnya.

sirine gaok
ngangsukawruh.com

Masyarakat Jogja pada jaman dulu menyebutnya dengan gaok. Suara yang dihasilkan oleh alat ini konon bisa di dengar oleh seluruh warga Jogja hingga mencapai radius puluhan kilometer.

Wajar saja bila hingga kini nama gaok masih sering disebut manakala berbicara tentang apa saja peninggalan atau yang tersisa dari jaman perang.

Berdasar catatan yang ada gaok ini adalah peninggalan bangsa Jepang pada masa perang dunia II. Alat ini akan sangat membantu memberi tanda bahaya manakala ada serangan dari udara terutama sekutu.

Setiap alaram ini berbunyi maka seluruh warga harus bersembunyi atau lebih tepatnya menyelamatkan diri. Tempat yang bisa dipilih antara lain parit atau selokan dan sejenisnya.

Untuk melatih kepekaan warga, konon Jepang sering melakukan simulasi. Bahkan untuk memberikan kesan nyata diberi suara tembakan atau bom dalam skala kecil.

Bukan hanya itu saja tapi seluruh warga yang ada juga dibekali dengan karet mentah yang harus digigit saat terjadi serangan ataupun simulasi. Karet tersebut dipercaya mampu mengurangi rasa takut saat terjadi serangan khususnya bila dibombardir dengan bom.

Bangunan yang satu ini hingga sekarang masih terlihat kokoh meski dimakan usia. Terbuat dari besi model 4 sisi seolah bangunan ini bukan buatan jaman perang.

Anehnya sejak menara gaok tersebut dibagun hingga berakhirnya perang dunia kedua serangan dimaksud tidak pernah datang lewat udara melainkan lewat jalur laut.

Usut punya usut besar kemungkinan bahwa gaok ini sengaja dibangun sebagai bagian dari propaganda. Disaat alarm berbunyi dan warga bersembunyi pihak Jepang sering kali menjarah harta atau kekayaan warga khususnya berupa besi yang kemudian digunakan Jepang sebagai bahan atau perbekalan untuk perang.

Tidak saja hanya besi milik warga tapi dijarah tapi bantalan rel yang dibuat bangsa Belanda juga tak luput dari jarahan. Sebagai gantinya bantalan tersebut diganti dengan bahan kayu jati.

Apa yang dilakukan Jepang dengan memanfaatkan gaok agar warga bersembunyi juga dilakukan oleh Belanda. Tepatnya saat terjadi agresi militer dan alarm ini akan berbunyi pada malam hari sebagai tanda warga tidak boleh lagi berkeliaran di luar rumah.

Gaok selain sebagai pertanda adanya serangan dari sekutu atau simulasi pernah juga digunakan sebagai pertanda telah masuk tanda berbuka pada saat bulan Ramadan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *