Kuliner Khas Jogja Mbah Satinem Menjadi Buruan Presiden Murah Senyum

Tak banyak yang tahu kalau dimasa Orde Baru simbah yang satu ini senantiasa menjadi buruan Presiden Soeharto. Bukan karena apa tapi racikan jajanan pasar atau kuliner khas Jogja miliknya memiliki citarasa istimewa.

mbah satinem
kompas.com

Mbah Satinem demikian banyak orang menyebutnya. Perempuan usia 75 tahun ini masih giat menjajakan aneka jajanan pasar yang diolah dengan cara tradisional.

Bacaan Lainnya

Tak heran semasa Presiden Soeharto berkuasa sering membeli dagangannya. Gatot dan thiwul, konon menjadi jajan pasar favoritnya. Selain dua menu tersebut jangan lupa untuk membelu lupis.

Semua makanan itu diolah tanpa ada bahan pengawet sehingga benar-benar aman dan hiegienis. Bukan hanya penguasa yang menjadi langganan. Beberapa hotel berbintang di Jogja pun sering membelinya.

Mbah Satinem setiap hari memulai membuat jajanan pasar sekitar pukul 00.00 WIB. Aneka menu kuliner tradisional itu akan siap saji sekitar pukul 04.00 WIB.

Setelah shalat subuh, dengan dibantu anaknya ia akan menyusuri jalan menuju pertigaan Jalan Bumijo. Biasanya sekitar pukul 06.00 dagangan telah siap di jual.

Tak jarang para pembeli datang lebih dulu sebelum Mbah Satinem tiba dilokasi. Wajar saja tak kurang dari 90 menit dagangan akan ludes pindah ke tangan pembeli. Bila kurang beruntung aneka kue daganganya baru habis sekitar pukul 08.00 WIB.

Kuliner khas Jogja yang dijajakan warga Trianggo, Sleman ini telah memiliki penggemar fanatik. Para pembeli yang lengah dan telat sedikit maka harus bersiap kecewa tidak kebagian buruannya.

Berdasar penuturan ibu Mukinem ini diketahui bahwa ia mulai mengenal aneka jajanan pasar ini sejak kecil. Kala itu Satinem muda melihat ibunya meracik dan membuat aneka makanan tradisional.

Dari situ ia mewarisi tangan dingin sebagai pembuat makanan jadul. Dan kemampuannya tersebut bertahan hingga sekarang dengan dibuktikan semakin banyak warga Jogja yang mencarinya.

Tak jarang mereka yang berasal dari luar Jogja penasaran akan rasa dan tampilan menu yang ia buat. Dengan modal Rp 5.000,- maka pembeli sudah berhak membawa 1 porsi makanan tradisional Jogja tersebut.

Porsi makanan dimaksud bisa berupa gatot, thiwul, lopis, atau cenil. Bila ada hajatan dan tertarik menyajikan panganan ini maka bisa pesan satu paket seharga Rp 150.000,-

Bukan hanya murah dan sehat tapi lebih dari itu adalah menjaga eksistensi kuliner tradisional Jogja di tengah gerusan kuliner barat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 Komentar

  1. Makanan tradisional jawa rasanya perlu untuk dimasukkan kedalam menu resto, karena memang layak apalagi pada event kuliner nusantara. Sudah saatnya kuliner/jajanan tradisional di modifikasi agar tidak hilang karena ditinggalkan.

    1. sekarang sudah banyak kok mas instansi di jogja yang menyadari betapa pentingnya memilih snack lokal daripada barat karena mereka ingin melestarikan apa yang ada