Sarjana Tanpa Kompetensi, Wajah Pendidikan Kita

  • Whatsapp

Tergelitik untuk membalas salah satu tulisan sahabat tentang alasan kenapa HRD memberikan kriteria minimal lulusan D3/ S1 segala jurusan. Kita atau lebih tepatnya saya mewakili diri sendiri dan bukan atas nama perusahaan ingin mengatakan bahwa memang benar mayoritas lulusan dari kampus kita belum siap 100 persen atau dalam bahasa kasarnya sarjana tanpa kompetensi.

sarjana tanpa kompetensi
okezone.com

Mereka masih harus dipoles untuk bisa melakukan pekerjaan spesifik. Masih harus mengikuti seranagkaian off the job training atau on the job training.

Tak dapat dipungkiri bahwa kampus belum bisa menyiapkan tenaga kerja siap pakai. Sebagai gambaran yang kebetulan saya pernah bekerja di 3 perusahaan multifinance masih saja harus memberikan pelatihan lebih.

Sebagai contoh paling teknis, di perusahaan pembiayaan itu ada posisi supervisor atau kepala bagian operasional di tiap-tiap cabang. Tapi hingga saat ini belum ada sarjana multifinance.

Ujung-ujungnya perusahaan harus menyiapkan strategi baru untuk menyiapkan tenaga kerja. Managemen Trainee salah satunya dan mayoritas perusahaan besar telah memulainya.

Mereka memiliki training center atau learning center agar calon karyawan siap pakai. Di kelas mereka yang lolos beberapa tahapan tes akan dilatih untuk mengetahui seluk beluk pekerjaan.

Tak sedikit waktu, biaya dan tenaga dikeluarkan untuk program ini. Effort yang sangat luar biasa tentunya dimana berbagai kemampuan yang tidak diajarkan di kampus akan diajarkan disini.

Tak dapat dipungkiri, kurikulum pendidikan yang sering berubah juga menjadi kendala. Kurang fokusnya pada dunia industri membuat kampus seolah hanya bagaimana memproduksi calon tenaga kerja (baca: lulusan) sebanyak-banyaknya.

Soal kualitas tentu akan dipengaruhi beberapa faktor. Selain basic si calon tenaga kerja sedikit banyak pastinya juga diwarnai apa yang dulu pernah diajarkan.

Jujur saya selama bekerja jadi HRD sejak tahun 2010 hingga saat ini masih terlalu sering menemukan calon tenaga kerja yang mentah dan kasar. Mereka benar-benar tidak tahu bahwa dunia kerja mencari orang yang bisa memberikan solusi.

Bukan memberikan retorika berdasar teori. Masih beruntung bila mereka dibekali kemampuan berorganisasi dimana antara apa yang mereka pikirkan sedikit banyak pernah mereka aplikasikan.

Bukan bermaksud mencari mana yang benar dan mana yang salah. Ada baiknya mulai sekarang para calon mahasiswa sebelum mengambil jurusan pikirkan masak-masak mereka tidak salah jurusan.

Bila yang terjadi adalah salah jurusan maka dipastikan mereka tidak akan menyelesaikan studi dengan baik. Yang ada hanya sekedar lulus dan nilai diatas kertas.

Belajarnya dari mereka yang bekerja karena memiliki kompetensi. Ijasah bukan lagi menjadi sesuatu yang utama tapi lebih sebagai aspek legalitas bahwa yang bersangkutan benar telah mengambil keahlian sesuai kurikulum yang berlaku.

Bila masih ada yang ingin di diskusikan bisa jawab pada kolom di bawah ini atau blog kamu ya…..

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *