Sarjana Tanpa Kompetensi, Wajah Pendidikan Kita

Tergelitik untuk membahas sarjana tanpa kompetensi dan kenapa hal ini bisa terjadi. Menjadi pengingat bagi diri saya sendiri tentunya untuk memastikan orang-orang disekitar membekali diri sejak duduk di bangku kuliah.

sarjana tanpa kompetensi
kanaljogja.id

Sarjana tanpa kompetensi biasanya akan terbentuk karena mereka belum meyadari ada tugas lain yang harus diemban selain harus menyelesaikan tugas kuliah. Mereka yang sejatinya adalah para anak muda penuh potensi dan gairah.

Bahan yang masih harus dipoles untuk bisa melakukan pekerjaan spesifik. Masih harus mengikuti serangkaian off the job training dan on the job training agar lebih matang.

Tak dapat dipungkiri bahwa kampus belum bisa menyiapkan tenaga kerja siap pakai. Sebagai gambaran yang kebetulan saya pernah bekerja di 3 perusahaan multifinance masih saja harus memberikan pelatihan lebih untuk karyawan baru.

Sebagai contoh paling teknis, di perusahaan pembiayaan itu ada posisi supervisor atau kepala bagian operasional di tiap-tiap cabang. Tapi hingga saat ini belum ada sarjana multifinance.

Baca Juga: 13 Persiapan Masuk Dunia Kerja yang Harus Diperhatikan

Strategi Perusahaan Menyiapkan SDM Siap Pakai

Saat ini bila kita lihat iklan lowongan kerja akan begitu mudah ditemukan posisi Manageman Trainee Program (MT) maupun Officer Development Program (ODP). Yang mana program ini sama-sama menciptakan calon leader di masa yang akan datang.

Perusahaan yang fokus dengan sumber daya manusia maka akan memiliki training center atau learning center agar calon karyawan siap pakai. Di kelas mereka yang lolos beberapa tahapan tes akan dilatih untuk mengetahui seluk beluk pekerjaan.

Tak sedikit waktu, biaya dan tenaga dikeluarkan untuk program ini. Effort yang sangat luar biasa tentunya dimana berbagai kemampuan yang tidak diajarkan di kampus akan diajarkan disini.

Wajah Pendidikan Kita

Tak dapat dipungkiri, kurikulum pendidikan yang sering berubah juga menjadi kendala. Kurang fokusnya pada dunia industri membuat kampus seolah hanya bagaimana memproduksi calon tenaga kerja (baca: lulusan) sebanyak-banyaknya.

Soal kualitas tentu akan dipengaruhi beberapa faktor. Selain basic si calon tenaga kerja sedikit banyak pastinya juga diwarnai apa yang dulu pernah diajarkan selama di kampus.

Jujur saya, selama bekerja di tim Human Capital sejak tahun 2010 hingga saat ini masih terlalu sering menemukan calon tenaga kerja yang mentah dan kasar. Mereka benar-benar tidak tahu bahwa dunia kerja mencari orang yang bisa memberikan solusi.

Jadilah Mahasiswa Plus

Beruntung bila mereka para mahasiswa di kampus membekali diri dengan kemampuan berorganisasi. Dimana sedikit banyak kemampua softskills mereka akan dilatih.

Jangan hanya menjadi mahasiswa biasa saja dengan ritus kampus, kos dan kantin saja. Mereka yang hanya tahu 3 hal ini bisa dipastikan akan kesulitan masuk dunia kerja.

Ada baiknya mulai sekarang para calon mahasiswa yang tengah menempuh pendidikan mencari kesibukan lain yang bisa membekali kompetensi. Perlu menjadi catatan kini perusahaan atau instansi hanya akan menggunakan mereka yang memiliki kompetensi cukup baik.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *