Anang Arseto, Balada Si Penjual Es Degan

“Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang, lemas jarimu terkepal.

anang arseto
facebook.com/anang.arseto

Sayup sayup lagu jadul itu mengingatkanku pada sosok Anang Arseto. Ia bukanlah orang besar atau terkenal di muka bumi ini.

Tapi barang siapa yang suka ke Pasar Godean dan jajan es degan di Jalan Godean Km 8 niscaya tahu dia. Orangnya sangat ramah dan mudah berbaur dengan siapa saja meski baru dikenal.

Mengenang masa lalu dimana kita pernah satu sekolah di SMP N 1 Godean dan banyak kegilaan pernah dilakukan bersama.

Pria dengan perut gendut ini sangat mudah ditemui karena setiap hari mangkal menjajakan es degan di depan Kantor Kecamatan Godean.

Berbicara tentang masa lalunya tak pernah habis akan namanya perjuangan. Bagaimana tidak, sejak masih duduk dibangku SD sudah harus membantu keuangan keluarga.

Konon, pekerjaan pertama yang ia lakukan adalah membantu simbahnya berjualan rokok, kacang dan es. Selanjutnya saat ia duduk dibangku SMP adalah mencetak genteng.

Masih ingat betul kala itu sepulang sekolah kita main ke rumahnya. Dan benar saja rumahnya berada di bawah tebing bukit lempung yang bisa saja sewaktu-waktu terjadi longsor.

Dengan ia pulalah saya sempat tahu rasanya jambu monyet dan kita bebas memetik dari kebun yang ada di sekitar rumah. Sebuah kenangan yang tak terlupakan manakala saat itu diberi kebebasan untuk menikmati alam.

Tak cukup untuk membiayai pendidikan dan akhirnya harus mengalah untuk sekolah adik-adiknya. Total ada 8 orang yang harus dibiayai dan untungnya ada diantara mereka yang telah bekerja di Negeri Sakura.

Dan sejak itu ia harus berbagi peran sebagai tulang punggung keluarga hingga sekarang. Selain itu ada berbagai profesi yang pernah dilakoni.

Saat paling jaya dalam kehidupannya tentu saja semenjak lulus SMA tahun 2003. Dimana dalam kurun waktu 5 tahun sempat menjadi “bos lempung” dengan 3 armada.

Sesuatu yang luar biasa dimana ia mulai merintis dari nol dan mencapai puncak tertinggi. Namun apa daya ketika ia tak sanggup menopang itu semua dan harus bangkrut.

Sempat putus asa dan 10 bulan dalam ketidakpastian akhirnya ia memantapkan diri untuk bangkit lagi. Tak boleh menyerah, dan masih merasa ada tanggung jawab untuk adik-adiknya yang masih kecil ia pun merintis usaha jualan degan sejak 2009 hingga sekarang.

Sepintas usahanya memang nampak kecil tapi siapa sangka omset dari penjualannya perbulan tidak kurang dari Rp 4 juta. Sebuah angka yang lumayan manakala UMR di Jogja kini masih nasakom atau nasib satu koma.

Sayapun selama kerja di Jogja dan menjadi karyawan saya tidak pernah mendapat angka sebesar itu. Dan Tuhan maha adil dimana ia mampu menuntaskan adik-adiknya pada jenjang sekolah minimal SMA.

Sampai sekarangpun saya ketika di Jogja masih sering menyambanginya. Bukan karena apa, memang lokasi jualannya yang strategis membuat nyaman untuk membunuh waktu.

Terutama pada siang yang begitu terik akan lebih nikmat bila dibarengi dengan segelas es degan. Bagi kamu yang penasaran boleh kok menemui satu mahluk langka ini.

Belajar darinya saya jadi teringat dengan sosok Bob Sadino. Dimana ia mampu merubah semua bermodalkan kerja keras dan pantang menyerah.

Pos terkait