Inikah Yang Dikejar Dunia Pendidikan Kita

Tak dapat dipungkiri bahwa system pendidikan yang ada saat ini kecenderungan mengedepankan intelektualitas daripada mentalitas. Mulai dari bangku sekolah dasar hingga perguruan tinggi tak ada bedanya.

wajah pendidikan
penalutim.com

Secara konsep mungkin telah baik, ada keseimbangan antara pendidikan yang menggedepankan intelektualitas tanpa mengurangi attitude. Tapi yang ada atau yang nampak lebih pada penggemblengan otak semata.

Bukti yang tak terelakan adalah banyaknya buku teks yang harus dibaca. Seolah peserta didik adalah gelas dan guru adalah teko.

Memindahkan apa yang ada dalam buku ke dalam otak masing-masing orang. Lebih banyak proses pengkopian atau bagaimana segala sesuatunya itu sesuai dengan konsep ideal yang tertulis.

Tak jarang seorang yang ngakunya pendidik memberikan materi untuk di baca dan dipelajari. Bukan untuk mentransformasikan ilmu hingga kemudian diolah oleh peserta didik menjadi sesuatu yang baru. Yang sesuai dengan jati diri orang tersebut.

Mungkin hasil pola didik yang seperti ini belum nampak saat ada di bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah. Lain halnya bila kemudian mereka lulus dari bangku perguruan tinggi.

Hanya menghasilkan sarjana tekstual yang tak mampu bersaing di dunia kerja. Hanya mengandalkan nilai hitam diatas putih dengan huruf A atau B semata.

Salah satu ciri orang yang kelak hanya akan menjadi karyawan adalah mereka yang selama menempuh pendidikan hanya berkutat pada kampus, kos dan kantin. Enggan mengambik kegiatan lain untuk mengasah ketrampilan.

Padahal jelas banyaknya kegiatan organisasi yang ada di kampus mampu menyiapkan seseorang dalam mengasah pikiran dan hati dalam menyelesaikan masalah atau konflik. Butuh pendekatan tertentu agar suatu masalah bisa diselesaikan dengan baik.

Bob Sadino, salah seorang anak bangsa yang sukses menjadi wirausaha pernah mengatakan bahwa mereka yang memiliki nilai Indeks Prestasi (IP) diatas 3,7 harus bersiap menjadi seorang karyawan. Lain halnya mereka yang memiliki nilai IP di bawah 3 maka orang ini akan berpotensi menjadi wirausaha.

Besar kemungkinan mereka yang nilainya tidak terlalu tinggi bukan karena bodoh. Tapi karena memang memiliki banyak kegiatan sehingga kurang memprioritaskan nilai. Orang yang kedua ini akan lebih bisa bekerja ikut orang maupun membangun usaha sendiri.

Jadi, masihkan hanya akan mengejar nilai semata tanpa mengembangkan potensi yang lain. Padahal masih banyak potensi yang ada dalam diri seseorang yang bisa digali dan dioptimalkan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan