Perpaduan Dua budaya yang Melatarbelakangi Sejarah Bakpia di Jogja

Sejarah Bakpia di Jogja – Ketika bermain di Jogja, tentu saja kita sering melihat lapak atau toko yang menjual oleh-oleh khas Jogja. Hal itu memanglah wajar karena selain tempat wisatanya yang terkenal, Jogja juga terkenal akan kuliner dan oleh-olehnya.

bakpia jogja
tips-cara.info

Akan tidak lengkap rasanya apabila kita datang ke sana tanpa membawa oleh-oleh makanan khas sana ketika pulang. Seperti makanan tanpa garam. Hambar dan hanya menyisakan rasa lelah saja ketika sampai di rumah.

Sebenarnya membawa oleh-oleh ketika bepergian bukan hanya untuk memberikan kesempatan orang-orang di rumah mencicipi rasa makanan dari tempat itu. Tetapi juga berbagi untuk yang lain dan kita bisa memberi buah tangan mereka yang di rumah.

Makanan Oleh-oleh Khas Jogja

Berbicara tentang kuliner dan Jogja, tentunya merupakan hal yang tidak asing bagi mereka yang pernah berkunjung ke Kota Wisata tersebut. Beraneka ragam makanan oleh-oleh khas Jogja bisa ditemukan di sepanjang jalan.

Mulai dari bakpia (dalam arti sebenarnya) hingga bakpiapia yang merupakan hasil dari inovasi yang ada. Ada juga yangko, makanan yang dibungkus mirip seperti permen ini juga digemari oleh wisatawan.

Hampir semua makanan atau kuliner khas Jogja terkenal dengan manisnya. Mungkin saja hal tersebut memiliki filosofi. Yakni agar para pengunjung akan merasakan betapa manisnya mengunjungi Kota Gudeg tersebut.

Baca juga: Tak Terbantahkan, ini dia 4+2 Bakpia Jogja Legendaris dan Terpopuler

Bakpia Primadona Oleh-oleh Khas Jogja

Dari sekian banyak oleh-oleh khas Jogja yang sering dibawa pulang, ada yang sangat populer dan identik Jogja banget. Dan apalagi kalau bukan bakpia.

Makanan sejenis roti yang memiliki ciri khas manis dan lembut ini menjadi primadona di toko oleh-oleh. Hampir semua tempat oleh-oleh di Jogja menyediakannya.

Kue bulat kecil yang kini miliki varian rasa ini terbuat dari bahan tepung terigu. Untuk isiannya kini bukan hanya kacang ijo.

Lebih dari itu ada cokelat, keju, nanas, durian, talas, jagung manis, ubi ungu, kumbu hitam dan masih banyak lagi. Inovasi ini untuk menjawab keinginan atau selera para penikmat bakpia.

Di Jogja sendiri ada sejarah panjang hingga bakpia seperti yang ada saat ini. Sejarah yang melatarbelakangi munculnya kue bulat ini juga menarik untuk dibahas.

Mengapa demikian? Karena sejarah bakpia sendiri terbentuk dari perpaduan dua budaya yang berbeda.

Kue yang digemari oleh wisatawan ini memang ikonik bagi kota Jogja. Bahkan sampai ada yang mengatakan bahwa “belum ke Jogja kalau belum beli bakpia”. Lalu bagaimana sih sejarah yang menarik itu? Simak saja ya pembahasannya.

Sejarah Bakpia di Jogja

Munculnya bakpia di Jogja ini bermula ketika seorang pendatang yang berasal dari Tiongkok memperkenalkan kue khas daerahnya. Pendatang tersebut bernama Kwik Sun Kwok.

Dulunya bakpia ini terkenal dengan nama kue pia. Kue pia sendiri berasal dari kata Tou Luk Pia yang memiliki arti roti isi daging.

Waktu itu Kwik, pendatang Tiongkok tersebut memperkenalkan Kue Pia ini dengan isi daging babi atau dalam bahasa Tiongkok “bak”. Lalu disempurnakan bahasanya menjadi bakpia yang artinya roti isi daging babi.

Dahulu roti ini terbuat dari minyak babi dan daging babi yang ada di dalamnya. Tentu saja makanan yang mengandung babi tidak disukai oleh masyarakat Yogyakarta yang mayoritas muslim.

Nah karena penasaran dengan kue tersebut, akhirnya masyarakat Jogja mempunyai inisiatif sendiri. Mereka mengubah bahan bakpia menjadi bakpia seperti yang pernah kita makan saat ini.

Mereka mengubah adonan yang terbuat dari babi menjadi adonan tepung dan berisi kacang ijo. Tentu saja bahan dan adonan tersebut sesuai dengan lidah masyarakat Jogja.

Bakpia Mulai Terkenal Sebagai Makanan Khas Jogja

Sejak itu masyarakat Jogja mulai menyukai bakpia. Namun tahukah kamu, bakpia itu mulai terkenal hingga ke seluruh negeri pada tahun 1980-an.

Pada tahun itu banyak sekali pendatang yang ingin mengunjungi kota Jogja. Sehingga industri pembuatan bakpia meningkat.

Perlahan tapi pasti usaha rumahan pembuatan bakpia mulai berkembang. Produksi bakpia terus meningkat setiap bulannya karena semakin banyak pendatang yang berkunjung. Rumah-rumah produksi bakpia juga kian banyak.

Daerah Pathok merupakan tempat yang menjadi sentra bakpia ini. Karena di sana rumah-rumah produksi bakpia berdiri begitu banyak hingga menjadi kawasan.

Dahulu orang-orang belum mengenal merek dan hanya melabeli bakpia dengan angka-angka saja. Makanya ketika kita berkunjung di daerah Pathok, kita hanya akan menemukan bakpia yang berlabel angka 25, 75 dan masih banyak lagi.

Nah itulah sejarah bakpia yang menjadi kegemaran siapa saja wisatawan Jogja. Bakpia ini akan senantiasa dijadikan oleh-oleh ketika orang-orang berkunjung ke Jogja. Sudah seperti ritual wajib yang sayang untuk dilewatkan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan