Home Story 4 Kampung Unik di Jogja Sarat Makna dan Kearifan Lokal

4 Kampung Unik di Jogja Sarat Makna dan Kearifan Lokal

0 793

Bosan liburan dengan yang itu-itu saja dan ingin sesuatu yang beda. Ada baiknya kamu berkunjung ke Sleman, Jogjakarta, tepatnya di Kecamatan Seyegan.

Di wilayah yang masih cukup asri ini kamu akan menemukan suatu perkampungan yang sarat akan nilai kearifan lokal. Suatu kesepahaman yang telah berlangsung turun temurun tanpa aturan tertulis tapi semua warga mengamininya.

Untuk menuju kampung unik di Jogja ini juga sangat mudah. Perjalanan bisa dimulai dari Tugu Jogja menuju arah Pasar Godean kemudian ambil arah kanan menuju Kecamatan Seyegan.

Percaya atau tidak percaya di kecamatan tersebut setidaknya ada 4 kampung yang memiliki sebuah pantangan. Dan uniknya semua warga memegang teguh pantangan tersebut.

Bila ada diantara mereka mencoba melanggar niscaya sial akan menerpa.

Kampung-kampung dengan pantangan dan ciri khas tersebut adalah :

1. Dusun Kasuran

dusun kasuran seyegan

kanaljogja.com


Dusun Kasuran menjadi satu wilayah yang paling populer. Tak sedikit para pemburu berita datang ke dusun ini untuk melihat lebih dekat.

Dan benar adanya, dusun yang menggunakan nama Kasuran ini justru tidak memiliki kasur. Konon barangsiapa yang tidur beralaskan kasur maka ia akan sial.

Pantangan ini ada sejak kedatangan Sunan Kalijaga yang mana beliau pernah berpesan bahwa kasur akan membuat warganya menjadi malas. Oleh karena itu warga tidak berani menggunakan kasur sebagai alas tidur.

Dusun Kasuran ini terletak di Desa Margodadi, Kecamatan Seyegan, Sleman.

2. Dusun Kregolan

dusun kregolan seyegan

krjogja.com


Jaman sekarang hampir semua rumah memiliki pagar. Tujuannya tentu saja untuk mengamankan aset pemiliknya.

Namun jangan kaget bila berkunjung ke kampung ini karena tak ada satupun yang akan memiliki pagar atau dalam bahasa Jawa disebut regol.

Dari beberapa informasi diketahui, konon regol akan membatasi silahturahmi antar warga. Informasi lain yang muncul adalah kala itu dikampung tersebut hanya satu rumah yang memiliki pagar yakni Mbah Siregol.

Tak ada orang yang berani membangun hal serupa karena takut dikira akan menyaingi sosok yang dituakan sekaigus pendiri kampung.

Entah kebenarannya yang mana belum bisa dipastikan. Hanya saja yang terlihat hubungan antar warga jadi lebih hidup karena antar rumah tidak ada pembatas sehingga silahturahmi mereka sangat baik.

Dusun Kregolan ini terletak di Desa Margomulyo, Kecamatan Seyegan, Sleman.

3. Dusun Ngino

mbah bergas ngino

tembi.net


Dusun tanpa pohon sirih dan sumur. Terdengar aneh mungkin bila suatu kampung tanpa pohon sirih dan sumur.

Masih berkaitan dengan perjalanan spiritual Sunan Kalijaga yang mana kali ini beliau bertemu Mbah Bergas. Pantangan ini bermula saat mereka bercengkerama hingga larut malam.

Dan pada suatu ketika Sunan Kalijaga mendengar seseorang mengambil air yang diduga sebagai warga yang akan wudlu untuk sholat subuh. Namun Mbah Bergas menjelaskan bahwa suara itu bukanlah warga yang akan sholat subuh melainkan mengambil air untuk menyiram tanaman.

Karena merasa malu maka Mbah Bergas meminta kepada warga kampung agar jangan lagi membangun sumur yang kemudian diambil airnya untuk menyiram tanaman.

Sementara itu asal mula Dusun Ngino berasal dari kata Nginang atau mengunyah daun sirih yang menjadi kegemaran Mbah Bergas. Untuk menghormati sesepuh kampung maka oleh warga kemudian nama kampung mereka diganti dengan nama Ngino.

Tiap tahun selalu digelar perayaan untuk mengingat ajaran tersebut hingga kini masih berlangsung dan selalu merih tiap tahunnya.

Dusun Ngino terletak di Desa Margoagung, Kecamatan Seyegan, Sleman.

4. Dusun Beteng

dusun beteng seyegan

krjogja.com


Masih berada di Desa Margoagung terdapat kampung dengan ciri khasanya yang mana tak ada satupun rumah yang menggunakan dinding tembok atau beton. Mereka memilih mempertahankan tempat tinggal mereka dengan dinding berbahan kayu atau tembok.

Bila yang lain ada kaitan dengan Sunan Kalijaga maka kampung ini ada kaitannya dengan Pangeran Diponegoro.

Pada masa itu, kampung tersebut menjadi basis pertahanan Pangeran Diponegoro dalam mengusir penjajah. Konon dengan kesaktiannya pangeran berkuda putih tersebut mampu membangun benteng gaib yang yang sangat kokoh yang mana hanya mampu dilihat penjajah.

Namun, bagi warga sekitar mereka hanya melihat bangunan biasa berbahan kayu dan bambu. Untuk menghormati keyakinan tersebut maka hingga kini tradisi tersebut masih terus berjalan.

Dan bagi mereka yang coba-coba melanggar pantangan yang telah berjalan turun-temurun tersebut maka harus siap menghadapi bala atau sial.

NO COMMENTS

Leave a Reply