Wayang Jogja Night Carnival (WJNC) #6 Hadir dengan Konsep Hybrid Event

Senantiasa sukses dalam menggelar Wayang Jogja Night Carnival, tahun ini pun gelaran serupa siap menyapa warga Jogja. Tak hanya itu saja tapi suguhan apik ini pun bisa disaksikan oleh masyarakat di seluruh dunia.

ilustrasi wayang-jogja-night-carnival
liputan6.com

Konsep hybrid event diusung dalam pertunjukkan akbar tahunan ini. Melalui Wayang Jogja Night Carnival (WJNC) #6, Jogja siap dikenal ke seluruh penjuru dunia.

Bacaan Lainnya

Kegiatan ini menjadi salah satu acara dari Puncak HUT ke-265 Kota Yogyakarta. Pertunjukkan yang melibatkan 14 kemantren ini akan digelar pada Kamis, 7 Oktober 2021.

Baca juga: Wayang Jogja Night Carnival (WJNC) #3 2018

Wayang Jogja Night Carnival (WJNC) #6 Bercerita Tentang Semar Boyong

Pandemi telah masuk tanah air sejak 1,5 tahun lalu dan hingga saat ini belum berakhir menjadi alasan kenapa Semar Boyong meski harus dipilih. Melalui street art performance ini penyelenggara ingin menyampaikan pesan optimistis, bahwa kita semua mampu melalui pagebluk ini.

Belajar dari Wayang Jogja Night Carnival sebelumnya, tiap tahun pun dihadirkan suguhan atau inovasi yang berbeda. Dan salah satunya tentu saja dengan konsep hybrid event ini.

Hadir di 4 Lokasi Berbeda

Perbedaan paling mencolok yang bisa ditemukan dalam Wayang Jogja Night Carnival ini salah satunya hadir di 4 zona / lokasi berbeda. Nantinya di tiap zona yang ada akan hadir 3 hingga 4 penampil dari perwakilan masing-masing kemantren. Dan berbagai tema turunan pun akan hadir melengkapi tema utama Semar Boyong.

Zona Satu

Mereka yang akan unjuk kebolehan di Zona Satu berasal dari Kemantren Umbulharjo, Pakualaman dan Jetis. Di panggung pertama akan hadir tema bernuansa megah dan romance akan hadir dalam Indraprastha.

Zona Dua

Di zona kedua akan diisi perwakilan dari Kraton, Gondomanan, Mantrijeron, dan Mergangsan. Mereka akan mengusung tema Poncowati yang sarat dengan tragedi yang divisualisasikan melalui ksatria, panah atau cakra.

Zona Tiga

Selanjutnya di zona tiga akan dimeriahkan perwakilan dari Kotagede, Gondokusuman dan Danurejan. Tema yang diangkat akan lebih segar karena berbau komedi dalam cerita Hastinapura.

Zona Empat

Zona terakhir akan diisi perwakilan dari Ngampilan, Gedongtengen, Tegalrejo dan Wirobrajan. Mereka akan mengusung tema Kahyangan, sesuatu yang bercerita dengan nuansa percintaan agung.

Layaknya di Negeri Kahyangan maka akan muncul dewa dewi. Selain itu akan hadir figur hewan dan lokananta (gamelan) yang akan tampil apik dan memukau.

Semua peserta yang terlibat dalam projek ini akan taat protokol kesehatan ketat. Tujuannya untuk mencegah tidak ada lagi klaster covid usai pagelaran.

Mereka yang terlibat telah melakukan vaksinasi minimal dosis pertama. Selain itu para pengisi acara, tamu dan undangan akan mengikuti swab antigen dengan hasil negatif.

Berbeda dengan pertunjukkan pada umumnya dimana mereka biasanya akan berjalan dengan mobil hias. Sebaliknya kali ini mereka yang akan berada di mobil hias justru para tamu, sementara itu para penampil tetap berada di panggung pertunjukkan.

Berharap dari gelaran ini kita bisa berbicara di pentas dunia bahwa kita pun bisa. Menggelar acara di tengah keterbatasan dengan segala kreativitas yang ada.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *