Input your search keywords and press Enter.

Nikmati Suguhan “Burger Kampung,” Burger Dinar ala Mbah Dongkrak

burger kampung

Burger kini tak asing sebagai salah satu ragam kuliner bagi kids zaman now. Kuliner yang konon berasal dari Jerman ini telah menjamur dipelosok negeri. Dan bagi kamu yang biasa menikmati yang itu-itu saja ada baiknya mencoba burger Dinar ala Mbah Dongkrak.

burger kampung

kapanlagi.com


Burger Dinar identik dengan nama Burger Kampung. Hal ini karena tak lain dan tak bukan disajikan dengan cara yang cukup sederhana. Dan dibalik menu ini ada nama Mbah Dongkrak yang sebenarnya memiliki nama Wahadi.

Usianya tak muda lagi, menginjak tiga perempat abad dan tak luntur energinya. Tangan tuanya masih cukup mahir mengolah roti yang dipotong kemudian dipanggang dan isi irisan daging sapi, timun, tomat dan slada. Jangan lupa tambahkan saus tomat atau sambal untuk memberi rasa segar.

Mbah Jumiyo, Diusia Senja Masih Hadirkan Keceriaan dengan Es Jadul-nya


Istilah burger kampung akan lebih terlihat saat melihat sepeda kayuhnya. Seolah tak pernah lelah menemani tuannya untuk melintas sepanjang jalan.

Warga Imogiri ini harus mengayuh sepeda untuk mengambil dagangan di Jalan Kaliurang Kilometer 12. Dan dari situlah kemudian ia akan menjajakan dagangan. Jalan Kaliurang menjadi sentra pendapatan karena disinilah paling banyak dijumpai pembeli.

Untuk dapat menemukan Burger Kampung ini tidak bisa ditemukan setiap saat. Maklum ia hanya menjual selepas zuhur hingga malam hari.

Untuk satu burger yang ia jual cukup dipatok Rp 7.000,-. Sangat murah bukan karena rata-rata burger yang ada saat ini di angka Rp 15.000,-. Terlebih bisa berbincang dengan salah seorang yang mampu bertahan diderasnya hidup membuat siapa saja lebih bersyukur.

Lain dengan orang pada umumnya dimana ia mulai bekerja disaat muda. Mbah Dongkrak mulai menjajakan burger kampung sejak usia 62 tahun dimana saat itu harusnya seseorang menikmati masa tua bersama anak cucu.

Ibnu Riyanto, Suami Sally Giovanny Sosok Dibalik Sukses Batik Trusmi

Kini diusianya yang telah menginjak 75 tahun bisa dibilang ia adalah penjual burger paling tua di Jogja. Sosok luar biasa yang tak mau menyerah dengan keadaan ini seringkali viral di dunia maya.

Mencoba menelusuri di dunia maya ternyata cukup banyak warganet yang peduli. Seringkali mereka membagikan postingan tentang keberadaan Burger Dinar. Tujuannya tentu saja agar dagangan Mbah Dongkrak segera habis dan pulang.

Pengabdian Bisa Dimulai dari Sekitar

Rata-rata mereka tidak tega bila ada kakek-kakek sepuh masih harus kerja keras. Dan bila kamu kebetulan menjumpai ada baiknya juga melakukan hal serupa. Tak ada ruginya bukan sekedar membantu meringankan Mbah Dongkrak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *