Upacara Adat Mbah Bregas Ngino Ajarkan Tentang Berbagai Sikap Positip

Tiap wilayah di Jogja memiliki tradisi unik yang mampu mengundang para wisatawan untuk datang dalam setiap perhelatan. Salah satu agenda tahunan yang banyak dinanti tentu saja Upacara Adat Mbah Bregas yang ada di Ngino, Desa Margoagung, Seyegan, Sleman.

gunungan mbah bregas ngino
kebudayaan.slemankab.go.id

Kegiatan ini intinya sama seperti yang lain. Sebagai ungkapan atas rasa syukur untuk nikmat dan kelimpahan rizki yang diberikan Tuhan pasca panen. Bersih desa menjadi agenda wajib yang tak boleh terlewatkan. Selain itu banyak prosesi yang dinanti oleh masyarakat sekitar.

Berbagai ajaran tentang kehidupan diajarkan oleh Mbah Bregas. Mulai dari sikap gotong royong, saling menghormati, menghargai, sikap rendah hati dan lain-lain.

Baca juga: Tuk Si Bedug, Mata Air Peninggalan Sunan Kalijaga di Seyegan

Asal Mula Upacara Adat Mbah Bregas

Dari beberapa informasi, upacara ini telah ada sejak zaman dulu. Dimana kala itu Mbah Bregas masih hidup di era Majapahit, hanya saja waktu itu bentuknya masih sederhana.

Alasannya cukup logis dimana Mbah Bregas adalah salah satu prajurit yang menyelamatkan diri mana kala kerajaan itu kalah dalam sebuah peperangan. Dan selanjutnya, Mbah Bregas memilih melakukan syiar agama Islam di Ngino dan sekitarnya.

Jadi jangan salah selain ada nama Sunan Kalijaga ternyata ada nama lain yang turut melakukan dakwah di wilayah yang masuk Kepanewon Seyegan ini.

Uniknya bila upacara adat lain diselenggarakan berdasar penanggalan Jawa murni tapi tidak untuk yang satu ini. Hal ini karena dalam praktiknya sudah ada kolaborasi atau bisa dibilang percampuran.

Dalam beberapa kesempatan puncak acara digelar pada bulan Mei yang mana merujuk pada penanggalan nasional. Namun demikan untuk persisinya digelar pada Jumat Kliwon pada bulan tersebut.

Seiring berjalannya waktu, kegiatan ini telah dikelola dengan baik. Bukan hanya oleh masyarakat sekitar saja tapi telah melibatkan pemerintah daerah setempat. Dengan demikian segala sesuatunya telah terkonsep dengan matang.

Peserta yang dilibatkan bukan lagi hanya masyarakat sekitar. Tapi berasal dari berbagai elemen yang ada.

Tentu saja hal itu akan membuat kegiatan ini lebih meriah. Bukan hanya sebatas upacara adat saja tapi telah menjadi sarana hiburan dan silahturahmi pihak-pihak terkait.

Baca juga: 4 Kampung Unik di Jogja, Sarat Makna dan Kearifan Lokal

Hiburan yang Tak Pernah Absen

Berbagai kesenian dan budaya ditampilkan seperti pentas seni Jathilan dan Wayang Kulit. Dua kesenian lokal yang kini masih marak dan banyak di cari ini akan selalu dijubeli penonton.

Untuk kesenian jathilan biasanya melibatkan warga sekitar Ngino dan tentu saja para pelaku seni yang tertarik melestarikan kebudayaan dan seni tradisional.

Ada juga arak-arakan atau festival yang mana sesepuh desa akan mengambil air yang dianggap suci dari Sendang Planangan. Letaknya tak terlalu jauh dari lokasi puncak acara jadi bila datang terlambat bisa jadi akan kesulitan melihat lebih dekat berbagai prosesi yang ada.

Kegiatan seni yang tak kalah menarik adalah tembang karawitan, macapat dan cokekan. Tidak cukup digelar satu atau dua jam tapi sampai pagi.

Puncak Acara dengan Tradisi Gunungan

Puncak acara dimulai pada Jumat Kliwon, sejak pagi Dusun Ngino akan dijupeli oleh para wisatawan. Tiga gunungan telah disiapkan untuk nantinya akan diperebutkan oleh seluruh warga yang datang.

Gunungan pertama terbuat dari hasil pertanian berupa padi. Disebut gunungan karena padi atau dalam bahasa Jawa disebut pari ini dibuat menyerupai gunung.

Selanjutnya gunungan kedua disebut wulu telu. Bahan yang digunakan untuk membuat gunungan adalah hasil palawija dan buah-buahan.

Terakhir gunungan ketiga berupa nasi tumpeng dengan ingkung ayam. Selain itu ditambahkan pula aneka jenis bunga, daun sirih dan air suci yang telah diambil dari Sendang Planangan.

Kirab budaya ini juga disertai dengan arak-arakan atau parade di mulai dari Balai Desa Margoagung hingga Dusun Ngino. Jarak yang ditempuh sekitar 2 kilometer dan membuat kaki cukup pegal bila tak biasa berjalan.

Arak-arakan ini tak beda dengan karnaval budaya pada umumnya. Seluruh peserta mengenakan pakaian tradisional sehingga akan terlihat mencolok di tengah kerumunan.

Puncak acara adalah pembagian hasil bumi yang diperebutkan oleh semua orang yang hadir setelah doa bersama. Sangat meriah tentunya terlebih disini semua pihak bisa ikut berperan serta.

Konon benda-benda yang diperebutkan ini bisa sebagai tolak bala.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *